lingkungan pendidikan yang harus diperhatikan oleh orang tua dan pendidik


BAB II
PEMBAHASAN
SARANA PRASARANA FASILITAS DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM

A.    Sarana Prasarana  Dan Fasilitas Pendidikan Islam
Sekolah merupakan lembaga pendidikan kedua yang bertugas membantu keluarga dalam membimbing dan mengarahkan perkembangan serta pendayagunaan potensi tertentu yang dimiliki siswa atau anak, agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia, sebagai anggota masyarakat, ataupun sebagai individual. Sekolah merupakan pendidikan yang berlangsung secara formal artinya terikat oleh peraturan-peraturan tertentu yang harus diketahui dan dilaksanakan. Di sekolah, murid atau anak tidak lagi diajarkan oleh orang tua, akan tetapi gurulah sebagai pengganti orang tua.
Hafidz (1989) memberikan pengertian sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendiidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang, kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran.[1] Peralatan dan perlengkapan yang telah disebutkan dalam penjelasan yang dimaksud oleh Hafidz adalah alat yang digunakan dalam proses belajar mengajar baik seorang pendidik ataupun seorang anak didik,mmisalny dalam menggunakan buku dan alat tulis lainnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah, tetapi tidak dimanfaatkan secara langsung untuk prosesbelajar  mengajar, seperti taman sekolah untuk pengajaran biologi, halaman sekolah sebagai sekolah lapangan olahraga, komponen tersebut merupakan srana pendidikan.[2]
Proses belajar-mengajar akan berjalan dengan baik kalau metode yang digunakan betul-betul tepat, karena antara pendidikan dengan metode saling berkaitan. Menurut Zakiah Daradjat, pendidikan adalah usaha atau tindakan untuk membentuk manusia.[3] Pendidikan agama sebagai salah satu aspek dasar daripada pendidikan nasional.
Berbicara tentang sarana dalam pendidikan adalah salah satunya metode. Metode sebagai salah satu sarana penting dalam proses pendidikan agama juga harus dikaji dan dikembangkan. Sejalan dengan tuntutan perkembangan jiwa anak didik atau remaja aagar mampu membawa dirinya dalam arena kompetisi kehidupan modern.[4]  Yaitu kehidupan yang penuh tantangan dan pertentangnan nilai-nilai sosial- sekuluaristik dan nilai sosial-religius atau nilai-nilai relativisme kultural yang berubah-ubah.
Sarana-sarana lainnya bersifat fisik seperti fasilitas peribadatan dan buku-buku bacaan yang bernilai moral religius dan memotivasi perilaku susila atau sopan santun sosial dan nasional. Yaitu sarana yang mendorong terciptanya kemampuan kreatif dalam berilmu pengetahuan.[5]
Sarana prasarana pendidikan perlu di manajemen dengan baik agar dapat memberikan kontribusi yang optimal pada jalannya proses pendidikan disekolah. Mulyasa (2002) mengatakan bahwa manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi, indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada disekolah.[6]
Pengertian sistem bisa deberikan terhadap suatu perangkat atau mekanisme yang terdiri dari bagian-bagian yang satu dan lainnya saling berhubungan dan saling memperkuat. Sarana adalah sebuah alat atau media yang digunakan dalam sistem belajar atau mekanisme belajar pendidikan Islam. Srana juga menjadi salah satu sumberdalam melakukan  pembelajaran.
Sarana lain yang tidak kalah pentingnya adalah  organisasi organisasi merupakan wadah kerja sama antara sekolah dan rumah dimana pelaksanaan pendidikan agama mempunyai arti sangat penting untuk penghayatan dan pengalaman yang berkesinambungan akan nilai-nilai pendidikan di kedua lembaga.[7]
AECT mendefenisikan sumber belajar adlaah berbagai atau semua sumber baik yang berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siiswa dalam belajar baik secara terpisah maupun secara terkombinasi, sehingga mempengaruhi dan mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya.[8]

B.     LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM

Seperti diketahui, setiap bayi manusia dilahirkan dalam lingkungan tertentu, yang merupakan lingkungan pendidikan terpenting sampai anak mulai masuk taman kanak-kanak ataupun sekolah. Sebelum anak menginjakkan langkah dunia ke dunia sekolah ia terlebih dahulu melewati kesehariannya di dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, tidak lain halnya sesudah ia masuk sekolah maka seperti dapat dipahami bahwasannya lingkungan dalam pendidikan itu sangat penting dan selalu diperhatikan.
Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas.ketiga lingkungan itu sering disebut tripusat pendidikan, yang akan mepengaruhi manusia secara bervariasi.[9] Muhammad Joko Susilo (2006) dalam kutipan bukunya menjelaskan tentang llingkungan pendiidikan yaitu dimensi lingkungan dapat dibedakan menjadi dua yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik lebih cendrung dikaji dari sisi bangunan yang berada disekitar sekolah, sedangkan lingkungan sosial dilihat dari kondisi masyarakat di sekitar sekola.[10]
Lingkungan pendidikan merupakan sala satu faktor terpenting dalam perkembangan dan pertumbuhan dalam pendidikan, dari bentuk sekitar bangunan pendudukung misalnya gedung sekolah, perpustakaan, dan gedung lainnya yang dapat dgunakan untuk sarana dan prasarana pendidikan.

1.      Fungsi Lingkungan Pendidikan
Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengalaman, pengalaman itu terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial secara efesien dan efektif.
Seperti diketahui lingkungan pendidikan pertama dan utama adalah keluarga.berdasarkan berpedaan ciri-ciri penyelenggaraan pendiidkan pada ketiga lingkungan pendidikan itu, maka ketiganya dibedakan sebgai pendidikan informal[11], pendidikan formal, dan pendidikan nonformal.[12]
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adala membantu peserta didik dlam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik, sosial dan budaya) utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang bersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal.[13] Konsep yang dipakai dalam lingkungan pendidikan itu sendiri agar membantu peserta didik dalam mengikuti pendidikan yang efektif dan efesien. Dengan mengenal lingkungan sosial seorang anak akan mengalami sebuah proses yang tidak di ketahui di dalam lingkungan keluarga dan juga sekolah, namun harusjuga meperhatikan batas-batas dalam bersosial.
2.      Berbagai lingkungan yang mempengaruhi
Semangat atau dorongan kerja keras disamping ditimbulakn dalam diri pribadi manusia sendiri, misalnya nafsu egocentris, polemos religius, dan mungkin juga nafsu eros, juga banyak faktor lingkungan kerja yang mengandung dorongan-dorongan, bail yang positif dan negatif terhada semangat berproduksi.[14]  Kualitas manusia, baik aspek kepribadian maupun penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan, serta  kemahiran dlam spesialisasi tertentu, merupakan hasil kerja ketiga lingkungan pendidikan. Kemajuan masyarakat, perkembangan iptek yang semakin cepat, serta makin menguatnya era globalisasi akan mempengaruhi peran dan fungsi ketiga lingkungan pendidikan.[15]
Manusia mengalami perubahan dalam menghadapi era globalisasi, dimana pada era teknologi maka akan menambah peran yang dilakukan oleh keluarga. Perkembangan teknologi yang mendorong manusia untuk mencukupi segala keinginan dan kebutuhannya.

3.      Tripusat Pendidikan
Lingkungan pendidikan yang mela-mula tetapi terpenting adalah keluarga. Pada masyarakat yang masih sederhana dengan struktur sosial yang belum kompleks, cakrawala anak sebagian besar masih terbatas pada keluarga. Pada masyarakat tersebutr keluarga mempunyai dua fungsi yaitu fungsi produktif dan fungsi konsumsi.[16]
Pada umumnya kehidupan seorang anak didalam masyarakat tradisonal tidak jauh beda denan kehidupan orang tuanya, di dalam masyarakat cendrung melihat sosok dan latar belakang orang tuanya dan linngkungan keluarga. Hal ini dapat menjadi dampak dan momok yang membingungkan dan membatasi anak dalam bersosial.
Tetapi didalam masyarakat modern dimana industeilalisasi semakin berkembang dan memerlukan Speaialisasi. Maka pendiidikan yang semula menjadi tanggung jawab keluarga itu kini sebagian besar diambil alih oleh sekolah dan lembaga-lembaga sosial lainnya. Dalam keluarga pada masyarakat yang belum maju, orang tua merupakan sumber pegetahuan dan keterampilan yang diwariskan atau diajarkan kepada  anak-anaknya. Dalam keluarga  ini orang tua memegang otoritas sepenuhnya. Sedangkan dalam keluarga modern orang tua harus membagi otoritas dengan orang lain, terutama guru dan pemuka masyrakat, bahkan dengan anak mereka sendiri yang memperolah pengetahuan baru dari luar keluarga.
Dalam masyarakat yang semakin maju di bidang materiil dan teknologi. Semakin tinggi kompleksitas hidup mental-kejiwaannya, semakin memerlukan tuntunan penasehat batin kelembagaan agar tidak terperangkap kedalam jurang kegersangan dan egoisme-individualisme.[17]
Lain hal nya dengan negara yang ada dalam negara barat , negara dengan materiil dan teknologi yang besar, sangat diperlukan penasehat untuk dapat menjadi pendiidkan dalam menhadapi era yang semakin maju, dan minim akan akhlak dan kebajikan.
Dalam peraturan dasar perguruan tinggi Nasional Taman Siswa (putusan Kongres X tanggal 5-10 Desember 1966) pasal 15 ditetapkan bahwa:[18]
a)      Untuk mencapai tujuan pendidikan nya, Taman Siswa melaksanakan kerja sama yang harmonis antara ketiga pisat pendidikan yaitu:
1)      Lingjungan keluarga;
2)      Lingjungan perguruan
3)      Lingjungan masyarakat / pemuda.
b)      Sistem pendidikan tersebut dinamakan sistem “tripusat”(suparlan,1984:110). Bagi taman Siswa, di samping siswa yang tetap tinggal dilingkungan keluarga, sebgaian siswa tinggal di asrama (Wisma Priya dan Wisma Rini) yang dikelola secara kekeluargaan dengan menerapkan sistem Among. Sedangkan pada lingkungan masyarakat,taman siswa, menerapkan dengan penekanan pemupukan semangat kebangsaan.( Suparlan,1984: 119-120).

a.      Keluarga
Komponen utama dalam keluarga adalah orang tua. Mereka adala orang yang paling berpeluang mempengaruhi peserta didik.[19] Keluarga merupakan pengempolokan primer yang terdiiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan semenda dan sedarah. Keluarga itu dapat berbentuk keluarga inti (nucleus family: ayah, ibu, dan anak), ataupun keluarga yang diperluas (di samping itu ada orang lain:kakek, nenek, adik/ipar, pembantu, dan lain-lain).[20]
Perkembangan kebutuhan dan aspirasi individu  maupun masyarakat, menyebabkan peran keluarga terhadap pendiidkan anak-anaknya juga mengalami perubaha kegiatn. Dengan meningkatnya kebutuhan an aspirasi anak, maka keluarga pada umumnya tidakm mampu memenuhinya. Maka dari itu tindakan yang dilakukan oleh orang tua untuk memenuhi tujuan pendiidikan  maka diambil suatu langkah mengikuti suatu kegiatan diluar sekolah sepetri kursus, belajar kelompok atau pun home teaching.
Fungsi dan peranan keluarga, disamping pemerintah dan masyarakat, dalam sisdiknas Indonesia  tidak terbatas hanya pada pendidikan keluarga saja, akan tetapi keluarga ikut serta bertanggung jawab terhadap pendidikan.[21]
Tidak sulit dipahami jika ornag tua memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan anaknya. Sehubungandnegan ini terdapat hadis antara lain sebgai berikut:



Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Rasulullah bersabda: “ setiap anak dilahirkan menurut fitrah[22] (potendi beragama islam). Selanjtnya, kedua orangtuanya lah yang membelokkanyamenjadi yahudi, nasrani, atau majusi bagaikan binatang melahirkan binatang, apakah kamu malihat kekurangan padanya?” (HR.Al-Bukhari)[23]
Menurut Al-Jamali,” pendiidkan Islam adalah proses yang Mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaanya sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarannya (pengaruh dari luar).”[24]
Menurut Ki Hajar Dewantara, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan orang-seorang (pendidikan Individual) maupun pendidikan sosial. Peran orang tua dalam keluarga sebagai penuntun , sebagai pengajar, dan sebagai contoh.[25]

b.      Sekolah
Diantara tiga pusat pendidikan adalah sekolah. Semakin maju suatu masyarakat semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakatnya. Dari sisi lain, sekolah juga menerima banyak kritik atas berbagai kelemahan dan kekurangan nya, yng mencapai puncaknya dengan gagasan Ivan Illich untuk memebebaskan masyarakat dari wajib sekolah dengan buku yang terkenal bebas dari sekolah (Deschooling society, 1972/1982).[26]
Sekolah sebagai pusat pendidikan adalah sekolah yang mencerminkan masyarakat yang maju karena pemanfaatan secara optimal ilmu pengetahuan, dan teknologi. Dengan demikian sekolah seharusnya dapat secara seimbang dalam menghadapi perkembangan dan kebudayaan, aspek perbudayaan, aspek pengetahuan dan pemikiran peserta didik.
Suatu alternatif yang mungkin dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah, anatara lain[27]:
1)      Pengajaran yang mendidik
Yakni pengajaran yang secara serentak memberi peluang pencapaian tujuan instruksional bidang tersebut, setiap guru pendidik dapat mengajukan pertanyaan: dengan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan urunan apakah yang dapat menjadi kontribusi untuk membentuk manusia seutuhnya?.
Penguasaan berbagai strategi belajar mengajar peluang untuk memilih variasi kegiatan belajar mengajar yang bermakna. Sednagkan kemantapan wawasan kependidikan akan memberi landasan yang tepat dan kuat di dalam pemilihan tersebut. Pemberian prakarsa dan tanggung jawab sedini mungkin kepada siswa untuk berperan di dalam kegiatan belajar mengajar akan snagat bermanfaat bukan hanya dalam pencapaian siswa disekolah, tetapi juga bermanfaat untuk membentuk dan memperkuat kebiasaan belajar terus menerus sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup.
Ilmu pengetahuan yang dipelajari anak di sekolah bukanlah sekedar pengisi otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupannya, baiksebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.[28] Harapan seorang pendiidik setelah memberikan pengajaran dan ilmu yang diberikan kepada peserta didik dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan perkembangannya.
Kegiatan belajar mengajar dihayati sebagai pengaaman kepada peserta didik ,akan dibedakan dalam tiga jenis sesuai dengan sasaran pembentukan atau tujuan pendiidikan yang akan dicapai (Raka Joni, 1985, 15) adalah[29]:
(a)          Pengkajian untuk membentukkan pengetahuan-pengetahuan, yang seyogyanya diwuudkan secara utuh, baik hailnya (fakta, pengertain, kaidah, dan sebagainya) maupun prosesnya.
(b)         Latiahan untuk sasaran pembentukan keterampilan (fisik, sosial, maupun intelektual). Pembentukan keterampilan itu memerlukan perbuatan dan langsung, baik dalam situasi nyata maupun simulatif, disertai dengan pemberian balikan (feed back) yang  spesifik dan  segera.
(c)          Penghayatan kegiatan/peristiwa serta nilai untuk sasaran pementukan nilai dan sikap (afektif), dengan pelibatan secara langsung, baik sebgai pelaku maupun penerima perlakuan.
2)      Peningkatan dan pemantapan pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan (BP) di sekolah, agar program eduktif ini tidak dengan program pengajaran serta program-program lainnya disekolah.
3)      Pengembangan perputakaan sekolah menjadi suatu pusat sumber belajar (PSB), yang mengelola bukan hanya bahan pustaka tetapi juga berbagai sumber belajar lainnya, baik sumber belajar yang dirancang maupun yang dimanfaatkan.
4)      Peningkatan dan pemantapan program pengolahan sekolah, khususnya yang terkain dengan peserta didik, pengelola sekolah sebagai pusat pendiidkan dan kebudayaan seharusnya merupakan refleksi dari suatu masyarakat pancasialis sebagai mana yang dicita-citakan dalam tujuan Nasional.
Alternatif ini tentulah seiring dengan upaya peningkatan mutu masukan instrumental dari sekola, seperti kurikulum, tenaga pendidik, sarana/prasarana, dan lain-lain.[30]  Untuk menjalankan alternatif ini pun sekolah harus mendapat dukungan dari pemerintahan pusat agar dapat mempermudah mewujudkan tujuan pendidikan yang dapat menciptakan tenaga yang bermutu dalam pembangunan nasional.
Adapun lingkungan ekologi pada anak yang berornetasi pada:[31]
1)      Lingkungan fisik,
2)      Lingkungan yang bersufat aktifitas
3)      Berbagai orang yang ada disekitar anak dapat dibedakan dalam usia, jenis kelamin, pekerjaan, status, kesehatan, dan tingkat pendidikannya.
4)      Sistem nialai: sikap, dan norma.
5)      Komunikasi antar anak/teman di sekelilingnya akan menentukan perkembangan sosial dan emosi anak.

c.       Masyarakat
Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari tiga segi yaitu:
1)         Masyarakat sebagai penyelggara pendidikan, baik yang dilembagakan (jalur sekolah dan jalur sekolah) maupun yang tidak dilembagakan (jalur luar sekolah).
2)         Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan /ataa kelompok sosial di masyarakat, baik langsung maupun tak langsung, ikut mempeunyai peran dan fungsi edukatif.
3)         Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by Design) maupun yang dimanfaatkan (utility).
Fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan sangat tergantung pada iptaraf perkembangan dar masyarakat itu berserta sumber—sumber belajar yang tersdia di dalamnya. Perkembangan masyaralat sagat  bervariasi, sehingga dapat dibedakan menjadi beberapa tipe.
Menurut Koentjaraningrat (dari Wayan Ardhana,1986: modul 1/71-72) menurutnya ada enam tipe sosial –budaya yaitu[32]:
a)      Tipe masyarakat berdasarkan sistem berkebun yang amat sederhana, hidup dengan berburu, dan belum mempunyai kebiasaa menanam padi.
b)      Tipe masyarakat perdesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau sawah dengan tanaman poko padi. Ini disebut juga dalam stratifikasi sosial sedang.
c)      Tipe masyarakat perdesaan berdasarkan sitem bercocok tanam  di ladang atau sawah dengan pokok padi.
d)     Tipe masyarakat perdesaan berdasarkan sistembercocok tanam di sawah dengan tanaman pokok padi. Sistem dasar kemasyarakatannya adalah komunitas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang agak kompleks.
e)      Tipe mayarakat perkotaan yang menpunai ciri-ciri pusat pemerintahan dengan sektor perdagangan dan indistri yang lemah.

Menurut Muhammad Ustman Najati, selain orang tua , teman dan orang yang terdekat juga meiliki pengaruh besar terhadap perkembangan perilaku anak, terutama pada masa remaja. Biasanya teman yang moralnya buruk kadang juga akan mempengarui orang ynag serng menerimanya.pengaruh teman ini diperkuat oleh bebrapa sikap studi yang menyoroti tindakan penyimpangan mereka. [33]
Sebenarnya bila kita lihat dari penjelasan tripusat pendiidkan ini, yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan masyarakat, lebih kedalam kesibukan dan teman bermain anak itu sendiri. Lain hal nya bila disekolah, seoarng murid atau peserta didik. Dia mengikuti segala ketentuan yang berlaku di sekolah tersebut, dengan perintah dan acuan seorang guru atau lembaga, seangkan di dalam keluarga seorang anak akan melihat seberapa besar orang tua meluangkan waktu untuk meraka, ketika dalam lingkungan keluarga ada tiak harmonis seperti yang anak inginkan maka ia kan mencari jalan dan kehidupannya sendiri.
Betapa besar pengaruh teman tergambar pada sabda Rasulullah saw. yang artinya:
“seseorang itu berdasarkan agama temannya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa temannya”. [34]  Disinipun dlam pergaulan bersama teman, seorang anak membutuhkan perhatian dan penjelasan untuk dengan siapa seharusnya ia dapat berteman.


















Di post oleh: summa wardaya musi












[1] Muhammad Joko Susilo, kurikulum Tingkat satuan Pendidikan, (Yogjakarta, , 2006), hlm: 185.
[2] Muhammad Joko Susilo, kurikulum Tingkat satuan Pendidikan, ... hlm: 185
[3] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1996), hlm.86.
[4] H. Muzayyin Ariffin, kapita selekta pendidikan Islam, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2011), hlm: 143.
[5] H. Muzayyin Ariffin, kapita selekta pendidikan Islam, ... hlm: 144.
[6] Muhammad Joko Susilo, kurikulum Tingkat satuan Pendidikan, ... hlm:185.
[7] H. Muzayyin Ariffin, kapita selekta pendidikan Islam, ... hlm: 144.
[8] Daryanto, belajar dan  Mengajar, (Bandung : Yrama Widya, 2010). Hlm:60.
[9] Umar Tirtarahardja dan S.L.La Sulo, Pengantar Pendidikan, (Jakarta : PT. Rineka Cipta. 2005), hlm: 162.
[10] Muhammad Joko Susilo, kurikulum Tingkat satuan Pendidikan, ... hlm:187.
[11] Pendidikan informal adalah pendidikan yang berlangsung alamiah dan wajar. Sedangkan pendidikan formal adalah pendidikan yang sengaja dirancang dengan peraturan-peraturan ketat seperti harus berjenjang dan berkesinambungan.dan pendidikan dalam masyarakat yang tidak berjenjang dan berkesinambungan adalah pendidikan nonformal.
[12] Umar Tirtarahardja dan S.L.La Sulo, Pengantar Pendidikan, ...hlm: 164
[13] Ibid.,(Umar Tirtarahardja) hlm:  164.
[14] Djamaluddin, kapita selekta pendidikan Islam, ( Bandung: Pustaka Setia, 1999). Hlm: 123.
[15] Umar Tirtarahardja dan S.L.La Sulo, Pengantar Pendidikan, ...hlm: 166.
[16] Ibid.,(Umar Tirtarahardja) hlm: 167.
[17] H. Muzayyin Ariffin, kapita selekta pendidikan Islam, ... hlm: 145.
[18] Umar Tirtarahardja dan S.L.La Sulo, Pengantar Pendidikan, ...hlm: 168.
[19] Bukhari Umar, hadits tarbawi: pendidikan dlam perspektif hadits, (Jakarta. Amzah.2014) hlm: 168.
[20] Umar Tirtarahardja dan S.L.La Sulo, Pengantar Pendidikan, ...hlm: 169.
[21] Ibid.,(Umar Tirtarahardja) hlm: 169.
[22] Fitrah adalah islam. Lihat Ibnu Hajar Al-Asqalani. Fath AL Bari penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari, juz.III, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006) hlm:619.
[23] Bukhari Umar, hadits tarbawi: pendidikan dlam perspektif hadits,...hlm: 168.
[24] Ibid., (Bukhari Umar) hlm: 169
[25] Umar Tirtarahardja dan S.L.La Sulo, Pengantar Pendidikan, ...hlm:169.
[26] Ibid.,  (Umar Tirtarahardja), hlm: 173.
[27] Ibid.,  (Umar Tirtarahardja), hlm: 174.
[28] Bukhari Umar, hadits tarbawi: pendidikan dlam perspektif hadits,...hlm: 186.
[29] Umar Tirtarahardja dan S.L.La Sulo, Pengantar Pendidikan, ...hlm:175-178.
[30] Ibid.,. (Umar Tirtarahardja) hlm: 178.
[31] Soemiarti Patmonodewo, pendidikan anak prasekolah, (Jakarta : Reneka Cipta,2003) hlm: 47.
[32] Ibid.,. (Umar Tirtarahardja) hlm: 179-180.
[33] Bukhari Umar, hadits tarbawi: pendidikan dlam perspektif hadits,...hlm: 170.
[34] Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. ( Bandung : ROSDA, 2008). Hlm: 174.

Komentar

Postingan Populer