pesantren dan madrasah Modern dalam sejarah pendidikan Islam
Selasa, 18 november 2014, pukul 06.00 wib
Pendidikan adalah
hal yang tidak dapat dipisahkan dari siklus kehidupan manusia, sebuah fitrah
dari makhluk yang dianugrahi akal dan pikiran. Proses pendidikan berjalan sejak
dalam kandungan sampai keliang lahat (baca: meninggal dunia). Pendidikan bisa
didapat dimana saja dan kapan saja. Proses pendidikan yang paling efektif
adalah melalui pendidikan formal. Dimana sekolah/pesantren merupakan perwujudan nyata pendidikan yang
dilakukan secara berjenjang atas dasar sistem dan kebijakan tertentu.
PESANTREN DAN
MADRASAH MODERN
A. Pesantren
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang
tertua di Indonesia, setelah rumah tangga (keluarga).[1]
Walaupun perhatian para ahli peneliti baru dilakukan terhadap pesantren yang
dimulai akhir-akhir ini, sudah banyak jumlah buku,majalah atau makalah yang
berkembang, namun masih banyak rahasia-rahasia dalam pesantern yang belum
terungkap. Dimana bagian yang belum terungkap itu adalah bagian yang memnag
sulit untuk diungkapkan.
Pesantren muerupakan lembaga pendidikan dan
pengajaran Islam dimana di dalamnya terjadi interaksi antara kyai atau ustadz
sebagai guru dan para santri sebagai murid dnegan mengambil tempat dimajid atau
dihalaman-halaman asrama (pondok) untuk mengaji dan membahas buku-buku teks
keagamaan karya ulama masa lalu (kitab kuning).
Menurut para ahli pesantren baru dapat disebut
pesantren bila memenuhi syarat yaitu; ada kiai, ada pondok, ada masjid, ada
santri dan ada pengajaran membaca kitab kuning.[2]
Dengan demikian bila orang menulis tentang pesantren maka topik-yopik yang
harus ditulis sekurang-kurang nya adalah:
1. Kiai pesantren, mencakup idial kiai untuk zaman kini dan nanti,
2. Pondok, akan mencakup syarat-syarat fisik dan nonfisik, pembiyaan, tempat,
penjagaan, dan lain-lain.
3. Masjid, cakupannya akan sama dengan pondok.
4. Santri, mencakup masalah syarat, sifat dan tugas santri.
5. Kitab kuning, bila diluaskan akan mencakup kurikulum pesantern dalm arti
yang luas.
Permulaan berdirinya, bentuk pesantren sangatlah sederhana, kegiatan
pengajian diselenggarakan di dalam masjid oleh seorang kyai sebagai guru dengan
beberapa santri sebagai muridnya. Seorang kyai yang menjadi guru sudah pernah
mukim bertahun-tahun untuk mengaji dan mengetahui pengetahuan agama Islam di Mekkah atau
Madinah. Ataupun pernah berguru oleh
seorang Wali atau Kyai terkenal di Nusantara.
Dengan mempelajari rukun Islam, rukun Iman dan aqidah, akhlak serta yang
menyangkut bersikap dalam lingkugan maka semakin banyak yang datang untuk
belajar, bahkan ada yang menginap dan tidak pulang, maka didirikan
pondok-pondok yang dimanfaat kan untuk santri-santri yang hendak belajar, maka
terbentuk lah pondok pesantren yang dimana ada masjid, kyai dan juga santri.
Pesantren sebagai komunitas dan lembaga pendidikan yang besar junlahnya dan
luas penyebarannya di berbagai pelosok tanah air Indonesia yang religius. Peran
pesantren di masa lalu kelihatan paling
menonjol dalam hal menggerakkan, memimpin, dan melakukan perjuangan
dalam rangka mengusir penjajah. Muhammad Mansur Suryanegara, seorang pakar
sejarah dari UNPAD pernah menyatakan bahwa sulit mencari gerakan melawan
penjajah di Indonesia ini yang bukan digerakkan dan dipimpin oleh orang
pesantren. Itu mudah dipahami karena orang peantren adalah orang Islam yang
imannya dapat diandalkan, iman cara Islam yang mereka miliki itu tidak dapat
menerima adanya supremasi seseorang, golongan atau bangsa atas orang, bangsa
lain. Penjajahan dalam bentuk apapun tidak dapat diterima dalam islam.[3]
Peran pesantren pada zaman sekarang juga amat jelas. Contohnya yang paling
nyata adalah sulitnya pemerintah masyarakatkan program dalam bila tidak melalui
pemimpin pesantren. Contoh lain dalam politik, pemimpin lain mendekati
orang-orang dalam pesantren dalam pemilihan umum, bila tidak akan menganggap
visi dan misi mereka rendah.
B. Madrasah Modern
Persepsi masyarakat terhadap madrasah di era
modern belaknagan semakin menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang
unik. Disaat ilmu pengetahun dan teknologi berkembang pesat, di saat filsafat
hidup manusia modern mengalami krisis keagamaan dan disaat perdagangan bebas
dunia makin mendekati pinti gerbangnya, keberadaan madrasah tampak semakin
dibutuhkan orang.
Secara harfiah madrasah diartikan sebagai
tempat belajar bagi para pelajar atau tempat untuk memberikan pengajaran. Sama
juga dengan secara teknis yakni dalam proses belajar mengajarnya secara formal,
madrasah tidak berbeda dengan sekolah. Namun diIndonesia madrasah tidak lantas
dipahami sebgai sekolah. Melainkan diberi konotasi yang lebih spesifik lagi,
yakni sekolah agama, tempat dimana anak-anak didik memperoleh pembelajaran
hal-ihwal atau seluk beluk agama dan keagamaan (yaitu Agama Islam).
Dalam prakteknya memang ada madrasah yang di
samping mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan ) al-“ulum al diniyah), juga
mengajarkan ilmu-ilmu yang diajarkan disekolah-sekolah umum. Selain itu ada
madrasah yang hanya mengkhususkan diri pada pelajaran ilmu-ilmu agama, yang
disebut madrasah diniyyah.
Dalam rangka menampung kegiatan halaqah yang
semakin banyak, sejalan dengan meningkatnya jumlah pelajar dan bidang ilmu pengetahuan yang diajarkan, maka dibangun
ruang-ruang khusus utuk kegiatan halaqah-halaqah tersebut disamping masjid.
Kemudian pada perkembangan selanjutnya adalah dibangunnya rang khusus untuk
para guru dan pelajar, sebgai tempat tinggal dan tempat kegiatan belajar
mengajar setiap hari secara teratur yang disebut zawiyah ayau ribath.
Para ahli sejarah pendidikan seprti A.L.Tibawi
dan Mehdi Nakosteen, mengatakan bahwa madrasah (bahasa Arab) merujuk pada
lembaga pendidikan tinggi yang luas di dunia Islam (klasik) pra – modern.
Artinya, secara istilah madrasah dimasa klasik Islam tidak sama terminologinya
dengan bahasa madrasah dalam pengertiann bahasa Indonesia. Para peneliti sejarah
pendidikan Islam menulis kata tersebut secara bervariasi misalnya scule atau
hochschule (jerman), school, college, atau academy
(Inggris).
Sebenarnya bahwa madrasah-madrasah pada masa
klasik Islam itu didirikan oleh para penguasa Islam ketika itu untuk memberikan
kebebasan masjid dari beban-beban pendidikan sekuler-sektarian. Sebab sebelum ada madrasah , masjid katika itu
memang telah digunakan sebagai lembaga pendidikan umum. Tujuan pendidikan
menghendaki adanya akyifitas sehinga menimbulkan hiruk-pikuk, sementara
beribadat didalam masjid menghendaki ketenangan dan kekhusukkan beribadah. Maka
dicarilah lembaga pendidikan alternatif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan
dan pendidikan umum, dengan tetap berpijak pada mitif keagamaan. Lembaga itu
ialah madrasah.
Di indonesia madrasah tetap dipakai dengan
kata aslinya, madrasah, kendatipun pengertiannya tidak lagi persis dengan apa
yang dipaami padamasa klasik, yaitu lembaga pendidikan tinggi, karena
[pergeseran menjadi lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah, dan tidah
terjadi di Indonesia saja tapi di Timur Tengah sendiri.
Berkembangnya madrasah di Indonesia pada abad
ke 20 M, memang merupakan wujud dari upaya pembaharuan pendidikanIslam yang
dilakukan para cendekiawan Muslim Indonesia, yang melihat bahwa lembaga
pendidikan Islam asli (tradisional) tersebut dalam beberapa hal tidak sesuai lagi
dengan tuntunan dan sistem blajar mengajar ala madrasah dengan sistem belajar
mengajar ala sekolah yang ketika madrsah mulai bermunculan, memang sudah banyak
dikembangkan oleh pemerintahan Hindia Belanda, membuat banyak orang
berpandangan bahwa madrasah sebenarnya merupakan bentuk lain dari sekolah ,
hanya saja diberi muatan dan corak ke Islaman.
Lembaga-lembaga pendidikan yang bermunculan
seiring dengan penyebaran Islam di Nusantara, terutama di Jawa, ketika itu
ialah pesantren. Dengan alasan itu pula pesantren secara historis seringkali
disebut tidak hanya identik dengan makna keIslaman, tetapi juga mengandung
makna keaslian Indonesia (indigenous). Karena itu membicarakan madrasah di
Indonesiaa dalam kaitannya dengan sejarah munculnya lembaga-lembaga pendidikan
tradisional Islam seringkali tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan mengenai
pesantren sebagai cikal bakalnya. Dengan
kata lain madrasah merupakan
perkembangan lebih lanjut dari pesantren.
Maka diawal abad-20 M di Indonesia secara
berangsur-angsur tumbuh dan berkembang pola pembelajaran Islam yang dikelola dengan
sistem “madrasi” yang lebih modern. Karena sejak awal kemunculannya, madrasah di
Indonesia sudah mengadopsi sistem sekolah modern dengan ciri-ciri:
1) Digunakannya sistem kelas,
2) Pengelompokkan pelajaran-pelajaran,
3) Penggunaan bangku,
4) Dan dimasukkannya pengetahuan umum sebagai bagian dari kurikulum.
Beberapa hal yang melatarbelakangi berdiriny
amadrasah sebagai lembaga pendidikan, yaitu:
1) Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam.
2) Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren kearah suatu sistem
pendidikan yang lebih memungkinkan lulusnya memperoleh kesempatan yang sama dengan
sekolah umum, misalnya masalah kesamaan kesempatan kerjad dan perolehan ijazah.
3) Adany asikap mental pada sementara golongan umat islam, khususnya
santri yang terpukau pada Barat sebagai
sistem pendidikan mereka.
4) Sebagai upaya untuk menjembatani antara sistem pendidikan tradisional yang
dilakukan oleh pesantren dan sistem pendidikan modern dari hasil akultursasi.
C. Persamaan dan Perbedaan Antara Pesantren dan Madrasah Modern
Ciri-ciri tersebut tidak terdapat dalam
pesantren yang semula lebih bersifat individual, seperti terdapat pada sistem
weton dan sorogan. Perlu diketahui bahwa pesantern dan madrasah modern memiliki
karakteristik tersendiri.
1. Persamaan pesantren dan madrsah
a. Merupakan lembaga pendidikan yang berdasarkan Islam
b. Bertujuan untuk mencetak generasi yang ideal dan bertaqwa kepada Allah SWT
2. Perbedaan pesantren dan madrasah
a. Adanya pesantren atau padepokan sebagai tempat tinggal sedangkan madrasah
tidak ada pesantren atau padepokan.
b. Dipimpin oleh seorang kyai, sedangkan madrasah dipimpin oleh kepala
sekolah.
c.
Menggunakan metode bedongan atau sorongan[4],
sednagkan dalam madrasah tidak
menggunakan metode bedongan ,
sorongan.
D. Lingkungan dan fasilitas Dalam Pendidikan Madrasah Modern
Sekolah merupakan lembaga pendidikan kedua
yang bertugas membantu keluarga dalam membimbing dan mengarahkan perkembangan
serta pendayagunaan potensi tertentu yang dimiliki siswa atau anak, agar mampu
menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia, sebagai anggota masyarakat,
ataupun sebagai individual. Sekolah merupakan pendidikan yang berlangsung
secara formal artinya terikat oleh
peraturan-peraturan tertentu yang harus diketahui dan dilaksanakan.
Di sekolah, murid atau anak tidak lagi diajarkan oleh orang tua, akan
tetapi gurulah sebagai pengganti orang tua.
Dilingkungan pesantren, madrasah bukanlah
barang yang asing , karena memang lahienya madrasah merupakan inovasi model
pendidikan pesantren. Dari kurikulum yang disusun rapi, para santri lebih mudah
megethui sampai dimana tingkat penguasaan materi yang dipelajari. Dengan metode
pengajaran modern yang disertai audio visual aids, kesan kumuh jorok, ortodoks,
dan exclusive yang pesantren sedikit demi sedikit terkikis.
Pondok pesantren dan madrasah tidak boleh
hanya terfokus menyiapkan sarana untuk pengembangan kurikulum atau materi
keilmuan pesantren saja tapi juga harus melengkapi fasilitas pengembangan
kurikulum dari DEPDIKNAS. Pengadaan laboratorium IPA, sarana olahraga, pustaka,
labor komputer, dan internet serta fasilitas penunjang lainnya. Pengadaan
fasilitas tidak hanya berupa bangunan fisik semata tapi didukung dengan
mengadakan kegiatan-kegiatan lomba bernuansa ilmiah, baik itu bidang sains,
teknologi ataupun bidang agama dan pengetahuan umum.[5]
Pengembangan madrasah pada umumnya berada
diluar kota ini tidak cukup memenuhi tuntutan masyarakat. Oleh karena itu
banyak pendidikan madrasah bermunculan ditengah kota kecil maupun di tengah
kota metripolitan. Meskipun bnyak yang berkembang di luar lingkungan pesantren,
budaya agamanya, moral dan etika agamanya tetap menjadi ciri khas sebuag
lembaga pendidikan Islam. Etika pergaulan, perilaku dan performance berpakaian
para santri menjadi daya tarik tersendiri, yang menjanjikan kebahagiaan hidup
didunia dan di akhirat sebagai mana tujuan pendidikan Islam.
Adapun prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam
pensantren dan madrasah yaitu:
1. Memiliki kebijakan menurut ajaran Islam;
2. Memiliki kebebasan yang terpimpin;
3. Kemandirian;
4. Memiliki kebersamaan yang tinggi;
5. Penghormatan yang tinggi pada guru;
6. Kesederhanaan.
KESIMPULAN
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan
peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimami, bertakwa, dan
berakhlak mulia mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamnya kitab suci
Al Qur’an dan al Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta
penggunaan pengalaman. Baik dalam pesantre atau pun madrasah modern pendidikan
islam tetap menjadi sebuah pandangan yang masih arus dipertahankan sebagai
salah satu media lembaga yang tetap menjadikan generasi bangsa dengan
berdasarkan iman dan akhlak yang baik. Dapat mengenal Tuhan nya dan siapa serta untuk apa dirinya diciptakan di dunia
ini.
DAFTAR PUSTAKA
Hasbullah, Sejarah pendidikan Islam di
Indonesia. Jakarta, Rajawali persada, 1995.
DEPAG RI. Pola pengembangan Pondok
Pesantren. Surabaya. 2002.
DEPAG RI. Pola pengembangan Pondok
Madrasah. Surabaya. 2003
Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung : ROSDA, 2008.
Tirtarahardja, Umar dan S.L.La Sulo, Pengantar Pendidikan, Jakarta
: PT. Rineka Cipta. 2005.
[1]
Ahmad Tafsir. Ilmu pendidikan
dalam perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosda karya, 2007),hlm: 191.
[2]
Ibid,...hlm:191.
[3]
Ibid,...hlm: 192.
[4]
Sorongan adalah belajar secara
individu, jalsah yaitu diskusi. Dan wetonan adalah beljar bersama melaui kyai.
[5]
Sunan10.blogspot.com/2011:mengembalikan_khittah_sistem_madrasah
Komentar
Posting Komentar