SARANA DAN PRASARANA LINGKUNGAN PENDIDIKAN DALAM KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN ISLAM
SELASA, 18 NOVEMBER 2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sekolah merupakan pendidikan yang berlangsung secara
formal artinya terikat oleh peraturan-peraturan tertentu yang harus diketahui dan dilaksanakan.
Di sekolah, murid atau anak tidak lagi diajarkan oleh orang tua, akan
tetapi gurulah sebagai pengganti orang tua. Sekolah
merupakan lembaga pendidikan kedua yang bertugas membantu keluarga dalam
membimbing dan mengarahkan perkembangan serta pendayagunaan potensi tertentu
yang dimiliki siswa atau anak, agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan
sebagai manusia, sebagai anggota masyarakat, ataupun sebagai individual.
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana
dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimami,
bertakwa, dan berakhlak mulia mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber
utamnya kitab suci Al Qur’an dan al Hadits, melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman.[1]
SARANA PRASARANA FASILITAS DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN
ISLAM
A.
Sarana Prasarana Dan Fasilitas
Pendidikan Islam
Sekolah merupakan lembaga pendidikan kedua yang bertugas
membantu keluarga dalam membimbing dan mengarahkan perkembangan serta
pendayagunaan potensi tertentu yang dimiliki siswa atau anak, agar mampu
menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia, sebagai anggota masyarakat,
ataupun sebagai individual. Sekolah merupakan pendidikan yang berlangsung
secara formal artinya terikat oleh peraturan-peraturan tertentu yang harus diketahui dan dilaksanakan.
Di sekolah, murid atau anak tidak lagi diajarkan oleh orang tua, akan
tetapi gurulah sebagai pengganti orang tua.
Hafidz (1989) memberikan pengertian sarana pendidikan
adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan
menunjang proses pendiidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti
gedung, ruang, kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran.[2]
Peralatan dan perlengkapan yang telah disebutkan dalam penjelasan yang dimaksud
oleh Hafidz adalah alat yang digunakan dalam proses belajar mengajar baik
seorang pendidik ataupun seorang anak didik,mmisalny dalam menggunakan buku dan
alat tulis lainnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan prasarana pendidikan
adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses
pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju
sekolah, tetapi tidak dimanfaatkan secara langsung untuk prosesbelajar mengajar, seperti taman sekolah untuk
pengajaran biologi, halaman sekolah sebagai sekolah lapangan olahraga, komponen
tersebut merupakan srana pendidikan.[3]
Proses
belajar-mengajar akan berjalan dengan baik kalau metode yang digunakan
betul-betul tepat, karena antara pendidikan dengan metode saling berkaitan.
Menurut Zakiah Daradjat, pendidikan adalah usaha atau tindakan untuk
membentuk manusia.[4] Pendidikan agama sebagai salah satu aspek dasar daripada
pendidikan nasional.
Berbicara tentang sarana dalam pendidikan adalah salah
satunya metode. Metode sebagai salah satu sarana penting dalam proses
pendidikan agama juga harus dikaji dan dikembangkan. Sejalan dengan tuntutan
perkembangan jiwa anak didik atau remaja aagar mampu membawa dirinya dalam
arena kompetisi kehidupan modern.[5] Yaitu kehidupan yang penuh tantangan dan
pertentangnan nilai-nilai sosial- sekuluaristik dan nilai sosial-religius atau
nilai-nilai relativisme kultural yang berubah-ubah.
Sarana-sarana lainnya bersifat fisik seperti fasilitas
peribadatan dan buku-buku bacaan yang bernilai moral religius dan memotivasi
perilaku susila atau sopan santun sosial dan nasional. Yaitu sarana yang
mendorong terciptanya kemampuan kreatif dalam berilmu pengetahuan.[6]
Sarana prasarana pendidikan perlu di manajemen dengan
baik agar dapat memberikan kontribusi yang optimal pada jalannya proses
pendidikan disekolah. Mulyasa (2002) mengatakan bahwa manajemen sarana dan
prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi,
indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun
murid untuk berada disekolah.[7]
Pengertian sistem bisa deberikan terhadap suatu perangkat
atau mekanisme yang terdiri dari bagian-bagian yang satu dan lainnya saling
berhubungan dan saling memperkuat. Sarana adalah sebuah alat atau media yang
digunakan dalam sistem belajar atau mekanisme belajar pendidikan Islam. Srana
juga menjadi salah satu sumberdalam melakukan
pembelajaran.
Sarana lain yang tidak kalah pentingnya adalah organisasi organisasi merupakan wadah kerja
sama antara sekolah dan rumah dimana pelaksanaan pendidikan agama mempunyai
arti sangat penting untuk penghayatan dan pengalaman yang berkesinambungan akan
nilai-nilai pendidikan di kedua lembaga.[8]
AECT mendefenisikan sumber belajar adlaah berbagai atau
semua sumber baik yang berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat
digunakan oleh siiswa dalam belajar baik secara terpisah maupun secara
terkombinasi, sehingga mempengaruhi dan mempermudah siswa dalam mencapai tujuan
belajarnya.[9]
B.
LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM
Seperti diketahui, setiap bayi manusia dilahirkan dalam
lingkungan tertentu, yang merupakan lingkungan pendidikan terpenting sampai
anak mulai masuk taman kanak-kanak ataupun sekolah. Sebelum anak menginjakkan
langkah dunia ke dunia sekolah ia terlebih dahulu melewati kesehariannya di
dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, tidak lain halnya sesudah ia masuk
sekolah maka seperti dapat dipahami bahwasannya lingkungan dalam pendidikan itu
sangat penting dan selalu diperhatikan.
Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh
dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas.ketiga lingkungan itu sering
disebut tripusat pendidikan, yang akan mepengaruhi manusia secara bervariasi.[10]
Muhammad Joko Susilo (2006) dalam kutipan bukunya menjelaskan tentang
llingkungan pendiidikan yaitu dimensi lingkungan dapat dibedakan menjadi dua
yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik lebih cendrung
dikaji dari sisi bangunan yang berada disekitar sekolah, sedangkan lingkungan
sosial dilihat dari kondisi masyarakat di sekitar sekola.[11]
Lingkungan pendidikan merupakan sala satu faktor
terpenting dalam perkembangan dan pertumbuhan dalam pendidikan, dari bentuk
sekitar bangunan pendudukung misalnya gedung sekolah, perpustakaan, dan gedung
lainnya yang dapat dgunakan untuk sarana dan prasarana pendidikan.
1.
Fungsi Lingkungan Pendidikan
Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang dapat
dikembangkan melalui pengalaman, pengalaman itu terjadi karena interaksi
manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial
secara efesien dan efektif.
Seperti diketahui lingkungan pendidikan pertama dan utama
adalah keluarga.berdasarkan berpedaan ciri-ciri penyelenggaraan pendiidkan pada
ketiga lingkungan pendidikan itu, maka ketiganya dibedakan sebgai pendidikan
informal[12],
pendidikan formal, dan pendidikan nonformal.[13]
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adala membantu
peserta didik dlam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik,
sosial dan budaya) utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang bersedia, agar
dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal.[14]
Konsep yang dipakai dalam lingkungan pendidikan itu sendiri agar membantu
peserta didik dalam mengikuti pendidikan yang efektif dan efesien. Dengan
mengenal lingkungan sosial seorang anak akan mengalami sebuah proses yang tidak
di ketahui di dalam lingkungan keluarga dan juga sekolah, namun harusjuga
meperhatikan batas-batas dalam bersosial.
2.
Berbagai lingkungan yang mempengaruhi
Semangat atau dorongan kerja keras disamping ditimbulakn
dalam diri pribadi manusia sendiri, misalnya nafsu egocentris, polemos
religius, dan mungkin juga nafsu eros, juga banyak faktor lingkungan kerja yang
mengandung dorongan-dorongan, bail yang positif dan negatif terhada semangat
berproduksi.[15]
Kualitas manusia, baik aspek kepribadian
maupun penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan, serta
kemahiran dlam spesialisasi tertentu, merupakan hasil kerja ketiga
lingkungan pendidikan. Kemajuan masyarakat, perkembangan iptek yang semakin
cepat, serta makin menguatnya era globalisasi akan mempengaruhi peran dan
fungsi ketiga lingkungan pendidikan.[16]
Manusia mengalami perubahan dalam menghadapi era
globalisasi, dimana pada era teknologi maka akan menambah peran yang dilakukan
oleh keluarga. Perkembangan teknologi yang mendorong manusia untuk mencukupi
segala keinginan dan kebutuhannya.
3.
Tripusat Pendidikan
Lingkungan pendidikan yang mela-mula tetapi terpenting
adalah keluarga. Pada masyarakat yang masih sederhana dengan struktur sosial
yang belum kompleks, cakrawala anak sebagian besar masih terbatas pada
keluarga. Pada masyarakat tersebutr keluarga mempunyai dua fungsi yaitu fungsi
produktif dan fungsi konsumsi.[17]
Pada umumnya kehidupan seorang anak didalam masyarakat
tradisonal tidak jauh beda denan kehidupan orang tuanya, di dalam masyarakat
cendrung melihat sosok dan latar belakang orang tuanya dan linngkungan
keluarga. Hal ini dapat menjadi dampak dan momok yang membingungkan dan
membatasi anak dalam bersosial.
Tetapi didalam masyarakat modern dimana industeilalisasi
semakin berkembang dan memerlukan Speaialisasi. Maka pendiidikan yang semula
menjadi tanggung jawab keluarga itu kini sebagian besar diambil alih oleh
sekolah dan lembaga-lembaga sosial lainnya. Dalam keluarga pada masyarakat yang
belum maju, orang tua merupakan sumber pegetahuan dan keterampilan yang
diwariskan atau diajarkan kepada anak-anaknya.
Dalam keluarga ini orang tua memegang
otoritas sepenuhnya. Sedangkan dalam keluarga modern orang tua harus membagi
otoritas dengan orang lain, terutama guru dan pemuka masyrakat, bahkan dengan
anak mereka sendiri yang memperolah pengetahuan baru dari luar keluarga.
Dalam masyarakat yang semakin maju di bidang materiil dan
teknologi. Semakin tinggi kompleksitas hidup mental-kejiwaannya, semakin
memerlukan tuntunan penasehat batin kelembagaan agar tidak terperangkap kedalam
jurang kegersangan dan egoisme-individualisme.[18]
Lain hal nya dengan negara yang ada dalam negara barat ,
negara dengan materiil dan teknologi yang besar, sangat diperlukan penasehat
untuk dapat menjadi pendiidkan dalam menhadapi era yang semakin maju, dan minim
akan akhlak dan kebajikan.
Dalam peraturan dasar perguruan tinggi Nasional Taman
Siswa (putusan Kongres X tanggal 5-10 Desember 1966) pasal 15 ditetapkan bahwa:[19]
a)
Untuk mencapai tujuan pendidikan nya, Taman Siswa melaksanakan kerja sama
yang harmonis antara ketiga pisat pendidikan yaitu:
1)
Lingjungan keluarga;
2)
Lingjungan perguruan
3)
Lingjungan masyarakat / pemuda.
b)
Sistem pendidikan tersebut dinamakan sistem “tripusat”(suparlan,1984:110).
Bagi taman Siswa, di samping siswa yang tetap tinggal dilingkungan keluarga,
sebgaian siswa tinggal di asrama (Wisma Priya dan Wisma Rini) yang dikelola
secara kekeluargaan dengan menerapkan sistem Among. Sedangkan pada lingkungan
masyarakat,taman siswa, menerapkan dengan penekanan pemupukan semangat
kebangsaan.( Suparlan,1984: 119-120).
a.
Keluarga
Komponen utama dalam keluarga adalah orang tua. Mereka adala orang yang
paling berpeluang mempengaruhi peserta didik.[20]
Keluarga merupakan pengempolokan primer yang terdiiri dari sejumlah kecil orang
karena hubungan semenda dan sedarah. Keluarga itu dapat berbentuk keluarga inti
(nucleus family: ayah, ibu, dan anak), ataupun keluarga yang diperluas
(di samping itu ada orang lain:kakek, nenek, adik/ipar, pembantu, dan
lain-lain).[21]
Perkembangan kebutuhan dan aspirasi individu maupun masyarakat, menyebabkan peran keluarga
terhadap pendiidkan anak-anaknya juga mengalami perubaha kegiatn. Dengan
meningkatnya kebutuhan an aspirasi anak, maka keluarga pada umumnya tidakm
mampu memenuhinya. Maka dari itu tindakan yang dilakukan oleh orang tua untuk
memenuhi tujuan pendiidikan maka diambil
suatu langkah mengikuti suatu kegiatan diluar sekolah sepetri kursus, belajar
kelompok atau pun home teaching.
Fungsi dan peranan keluarga, disamping pemerintah dan masyarakat, dalam
sisdiknas Indonesia tidak terbatas hanya
pada pendidikan keluarga saja, akan tetapi keluarga ikut serta bertanggung
jawab terhadap pendidikan.[22]
Tidak sulit dipahami jika ornag tua memiliki pengaruh yang besar dalam
perkembangan anaknya. Sehubungandnegan ini terdapat hadis antara lain sebgai
berikut:
Abu Hurairah
meriwayatkan bahwa Nabi Rasulullah bersabda: “ setiap anak dilahirkan menurut
fitrah[23]
(potendi beragama islam). Selanjtnya, kedua orangtuanya lah yang membelokkanyamenjadi
yahudi, nasrani, atau majusi bagaikan binatang melahirkan binatang, apakah kamu
malihat kekurangan padanya?” (HR.Al-Bukhari)[24]
Menurut Al-Jamali,” pendiidkan Islam adalah proses yang Mengarahkan manusia
kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaanya sesuai
dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarannya (pengaruh dari luar).”[25]
Menurut Ki Hajar Dewantara, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat
yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan orang-seorang (pendidikan
Individual) maupun pendidikan sosial. Peran orang tua dalam keluarga sebagai
penuntun , sebagai pengajar, dan sebagai contoh.[26]
b.
Sekolah
Diantara tiga pusat pendidikan adalah sekolah. Semakin maju suatu
masyarakat semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda
sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakatnya. Dari sisi lain, sekolah
juga menerima banyak kritik atas berbagai kelemahan dan kekurangan nya, yng
mencapai puncaknya dengan gagasan Ivan Illich untuk memebebaskan masyarakat
dari wajib sekolah dengan buku yang terkenal bebas dari sekolah (Deschooling
society, 1972/1982).[27]
Sekolah sebagai pusat pendidikan adalah sekolah yang mencerminkan
masyarakat yang maju karena pemanfaatan secara optimal ilmu pengetahuan, dan
teknologi. Dengan demikian sekolah seharusnya dapat secara seimbang dalam
menghadapi perkembangan dan kebudayaan, aspek perbudayaan, aspek pengetahuan dan
pemikiran peserta didik.
Suatu alternatif yang mungkin dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi
sekolah, anatara lain[28]:
1)
Pengajaran yang mendidik
Yakni pengajaran yang secara serentak memberi peluang pencapaian tujuan
instruksional bidang tersebut, setiap guru pendidik dapat mengajukan
pertanyaan: dengan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan urunan apakah yang
dapat menjadi kontribusi untuk membentuk manusia seutuhnya?.
Penguasaan berbagai strategi belajar mengajar peluang untuk memilih variasi
kegiatan belajar mengajar yang bermakna. Sednagkan kemantapan wawasan
kependidikan akan memberi landasan yang tepat dan kuat di dalam pemilihan
tersebut. Pemberian prakarsa dan tanggung jawab sedini mungkin kepada siswa
untuk berperan di dalam kegiatan belajar mengajar akan snagat bermanfaat bukan
hanya dalam pencapaian siswa disekolah, tetapi juga bermanfaat untuk membentuk
dan memperkuat kebiasaan belajar terus menerus sesuai dengan asas pendidikan
seumur hidup.
Ilmu pengetahuan yang dipelajari anak di sekolah bukanlah sekedar pengisi
otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupannya, baiksebagai individu maupun
sebagai makhluk sosial.[29]
Harapan seorang pendiidik setelah memberikan pengajaran dan ilmu yang diberikan
kepada peserta didik dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai
dengan perkembangannya.
Kegiatan belajar mengajar dihayati sebagai pengaaman kepada peserta didik
,akan dibedakan dalam tiga jenis sesuai dengan sasaran pembentukan atau tujuan
pendiidikan yang akan dicapai (Raka Joni, 1985, 15) adalah[30]:
(a)
Pengkajian untuk membentukkan pengetahuan-pengetahuan, yang seyogyanya
diwuudkan secara utuh, baik hailnya (fakta, pengertain, kaidah, dan sebagainya)
maupun prosesnya.
(b)
Latiahan untuk sasaran pembentukan keterampilan (fisik, sosial, maupun intelektual).
Pembentukan keterampilan itu memerlukan perbuatan dan langsung, baik dalam
situasi nyata maupun simulatif, disertai dengan pemberian balikan (feed back) yang spesifik dan
segera.
(c)
Penghayatan kegiatan/peristiwa serta nilai untuk sasaran pementukan nilai
dan sikap (afektif), dengan pelibatan
secara langsung, baik sebgai pelaku maupun penerima perlakuan.
2)
Peningkatan dan pemantapan pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan
(BP) di sekolah, agar program eduktif ini tidak dengan program pengajaran serta
program-program lainnya disekolah.
3)
Pengembangan perputakaan sekolah menjadi suatu pusat sumber belajar (PSB),
yang mengelola bukan hanya bahan pustaka tetapi juga berbagai sumber belajar
lainnya, baik sumber belajar yang dirancang maupun yang dimanfaatkan.
4)
Peningkatan dan pemantapan program pengolahan sekolah, khususnya yang
terkain dengan peserta didik, pengelola sekolah sebagai pusat pendiidkan dan
kebudayaan seharusnya merupakan refleksi dari suatu masyarakat pancasialis
sebagai mana yang dicita-citakan dalam tujuan Nasional.
Alternatif ini tentulah seiring dengan upaya
peningkatan mutu masukan instrumental dari sekola, seperti kurikulum, tenaga
pendidik, sarana/prasarana, dan lain-lain.[31] Untuk menjalankan alternatif ini pun sekolah
harus mendapat dukungan dari pemerintahan pusat agar dapat mempermudah
mewujudkan tujuan pendidikan yang dapat menciptakan tenaga yang bermutu dalam
pembangunan nasional.
Adapun lingkungan ekologi pada anak yang
berornetasi pada:[32]
1)
Lingkungan fisik,
2)
Lingkungan yang bersufat aktifitas
3)
Berbagai orang yang ada disekitar anak dapat dibedakan dalam usia, jenis
kelamin, pekerjaan, status, kesehatan, dan tingkat pendidikannya.
4)
Sistem nialai: sikap, dan norma.
5)
Komunikasi antar anak/teman di sekelilingnya akan menentukan perkembangan
sosial dan emosi anak.
c.
Masyarakat
Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari tiga segi
yaitu:
1)
Masyarakat sebagai penyelggara pendidikan, baik yang dilembagakan (jalur sekolah
dan jalur sekolah) maupun yang tidak dilembagakan (jalur luar sekolah).
2)
Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan /ataa kelompok sosial di masyarakat,
baik langsung maupun tak langsung, ikut mempeunyai peran dan fungsi edukatif.
3)
Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by
Design) maupun yang dimanfaatkan (utility).
Fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan sangat tergantung pada iptaraf
perkembangan dar masyarakat itu berserta sumber—sumber belajar yang tersdia di
dalamnya. Perkembangan masyaralat sagat
bervariasi, sehingga dapat dibedakan menjadi beberapa tipe.
Menurut Koentjaraningrat (dari Wayan Ardhana,1986: modul 1/71-72)
menurutnya ada enam tipe sosial –budaya yaitu[33]:
a)
Tipe masyarakat berdasarkan sistem berkebun yang amat sederhana, hidup
dengan berburu, dan belum mempunyai kebiasaa menanam padi.
b)
Tipe masyarakat perdesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau sawah
dengan tanaman poko padi. Ini disebut juga dalam stratifikasi sosial sedang.
c)
Tipe masyarakat perdesaan berdasarkan sitem bercocok tanam di ladang atau sawah dengan pokok padi.
d)
Tipe masyarakat perdesaan berdasarkan sistembercocok tanam di sawah dengan
tanaman pokok padi. Sistem dasar kemasyarakatannya adalah komunitas petani
dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang agak kompleks.
e)
Tipe mayarakat perkotaan yang menpunai ciri-ciri pusat pemerintahan dengan
sektor perdagangan dan indistri yang lemah.
Menurut Muhammad Ustman Najati, selain orang
tua , teman dan orang yang terdekat juga meiliki pengaruh besar terhadap
perkembangan perilaku anak, terutama pada masa remaja. Biasanya teman yang
moralnya buruk kadang juga akan mempengarui orang ynag serng menerimanya.pengaruh
teman ini diperkuat oleh bebrapa sikap studi yang menyoroti tindakan penyimpangan
mereka. [34]
Sebenarnya bila kita lihat dari penjelasan
tripusat pendiidkan ini, yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan
masyarakat, lebih kedalam kesibukan dan teman bermain anak itu sendiri. Lain
hal nya bila disekolah, seoarng murid atau peserta didik. Dia mengikuti segala
ketentuan yang berlaku di sekolah tersebut, dengan perintah dan acuan seorang
guru atau lembaga, seangkan di dalam keluarga seorang anak akan melihat
seberapa besar orang tua meluangkan waktu untuk meraka, ketika dalam lingkungan
keluarga ada tiak harmonis seperti yang anak inginkan maka ia kan mencari jalan
dan kehidupannya sendiri.
Betapa besar pengaruh teman tergambar pada
sabda Rasulullah saw. yang artinya:
“seseorang itu berdasarkan agama temannya.
Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa temannya”. [35] Adapun Disini dalam pergaulan bersama teman, seorang anak
membutuhkan perhatian dan penjelasan untuk dengan siapa seharusnya ia dapat
berteman.
A.
KESIMPULAN
Sarana prasarana merupakan faktor yang
mempengaruhi pendidikan dalam belajar mengajar serta menajdi motifasi
untuk terus menuntut ilmu. Selain sarana dan prasarana , yang menjadi faktor
pendukung dalam pendidikan adlaah lingkungan. Lingkungan dalam pendiidkan
sering disebut dengan tripusat pendiidkan yaitu keluarga, sekolah dan
masyarakat.
Selain lingkungan masyarakat
luasyang harus diperhatikan dalam lingkungan pendidikan seorang peserta didik
atau anak adalah teman bermainnya. Yang dapat dilihat dari usia, pekerjaan, dan
latar belakng pendiidikan. Orang tua
sebagai faktor utama dalam pemberian pengajaran dan contoh bimbingan bagi anak
sebelum mereka menganal sekolah dan masyarakat.
B.
Saran
Sebagai seorang pendidik ataupun orang tua, sebaiknya dapat mengerti dan
memahami apa yang mejadi kabutuhan dan karakteristik dalam pendidikan. Masih
begtu banyak para anak-anak usia pelajar
yang mengalami kehidupan dalam masyarakat yang tidak seharusnyamasuk dalm dunia
pendidikannya. Masih banyak buku dan refernsi yang harus dipelajari oleh
seorang pendiidk dalam memotivasi peserta diidik.
DAFTAR PUSTAKA
Ariffin,Muzayyin kapita selekta
pendidikan Islam, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2011.
Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Fath AL Bari
penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari, juz.III, Jakarta: Pustaka
Azzam, 2006.
Daradjat, Zakiah. Ilmu
Pendidikan Islam, Jakarta :
Bumi Aksara, 1996.
Daryanto, belajar dan Mengajar, Bandung : Yrama
Widya, 2010.
Djamaluddin, kapita selekta pendidikan
Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1999.
Patmonodewo, Soemiarti. pendidikan anak
prasekolah, Jakarta : Reneka Cipta,2003.
Susilo, Muhammad Joko. kurikulum Tingkat
satuan Pendidikan, Yogjakarta, , 2006.
Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan Dalam
Perspektif Islam. Bandung :
ROSDA, 2008.
Tirtarahardja, Umar dan S.L.La Sulo, Pengantar
Pendidikan, Jakarta : PT. Rineka Cipta. 2005.
Komentar
Posting Komentar