MODEL-MODEL PEMBELAJARAN*


Proses belajar-mengajar akan berjalan dengan baik kalau metode yang digunakan betul-betul tepat, karena antara pendidikan dengan metode saling berkaitan. Menurut Zakiah Daradjat, pendidikan adalah usaha atau tindakan untuk membentuk manusia.[1] Pendidikan agama sebagai salah satu aspek dasar daripada pendidikan nasional. Metode sebagai salah satu sarana penting dalam proses pendidikan agama juga harus dikaji dan dikembangkan. Sejalan dengan tuntutan perkembangan jiwa anak didik atau remaja agar mampu membawa dirinya dalam arena kompetisi kehidupan modern.[2]
Dalam kegiatan pembelajaran terdapat dua kegiatan yang sinergis, yakni guru mengajar dan siswa belajar. Guru mengajarkan bagaimana siswa harus belajar melalui berbagai pengalaman belajar hingga terjadi perubahan dalam diri siswa aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif.[3] Pengajaran merupakan proses yang bearfungsi membimbing para pelajar/siswa didalam kehidupan, yakni membimbing mengembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus dijalankan oleh para siswa. Untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan inovatif seorang guru atau pendidik seharusnya mempunyai cara mengajar dengan penggunaan metode atau model pembelajaran.
Penulis akan membahas masalah model-model pembelajaran lebih inti dalam pembahasan makalah ini.
PENGEMBANGAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

A.    Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Belajar dan pembelajaran merupakan konsep yang saling berkaitan. Belajar merupakan proses perubahan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan. Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendudukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian eksternal yang berperanan terhadap rengkaian kejadian –kejadian iternal yang berlangsung didalam peserta didik.[4]
Pandangan seseorang tentang belajar akan mempengaruhi tindakan-tindakannya yang berhubungan dengan belajar dan setiap orang mempunyaipandangan yang berbeda tentang belajar. Menurut pengertian secara psikologis , belajar adalah suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat diartikan “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memeperolah suatu perubahan tingkah laku yang baru dari seluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.[5]


Menurut teori dari R. Gagne memberikan defenisi terhadap masalah belajar yaitu:1) belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku. 2) belajar adalah penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari intruksi.[6] Seseorang belajar dengan tahap dari mendengar , melihat hingga melakukan segala sesuatu nya sendiri dengann pemahaman dan keterampilan.
Belajar menggunakan simbol-simbol yang menyatakan keadaan sekelilingnya, seperti gambar, huruf, angka, diagram dan sebagainya.[7] Ini adalah tugas intelektual seperti membaca, menulis, berhitung, dan sebagainya.
Keterampilan mengajar merupakan kompetensi profesional yang cukup kompleks, sebagai integrasi dari berbagai kompetensi guru secara untuh dan menyeluruh. Menurut Turney mengungkapkan adanya delapan keterampilan mengajar yang sangat berperan dan mennetukan kualitas pembelajaran, yang meliputi keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membinabing diskudi kelompok kecil, mengelola kelas, serta mengajar kelompok kecil dan perorangan.[8]



B.     Pengertian Model Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah seperangkat komponen yan telah dikombinasikan secara optimal untukkualitas pembelajaran.[9] Hasil pembelajaran efek dari setiap metode pembelajaran. Suatu metode pembelajaran yang sama dapar membedakan hasil pembelajara, jika kondisinya berbeda.
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Pendapat lain menurut Soetopo mendefinisikan model pembeljaran adalah sebagai suatu pola yang digunakan untuk menerapkan kurikulum, merancang materi pembelajaran dan juga untuk melakukan bimbingan kepada siswa dalam kelas atau tempat belajar lainnya.[10]
Firman Allah SWT.:
ë=»tGÏ. çm»oYø9tRr& y7øs9Î) Ô8t»t6ãB (#ÿr㍭/£uÏj9 ¾ÏmÏG»tƒ#uä t©.xtFuŠÏ9ur (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÒÈ 
Artinya:” ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.[11]

Pada hakikatnya AL Qur’an itu merupakan perbendaharaan yang besar untuk kebudayaan manusia, terutama bidang kerohanian, Ia pada dasarnya merupakan kitab pendidikan kemasyarakattan,mori; (akhlak) dan spiritual ( kerohanian).[12]
Dari definisi diatas adapun fungsi model pembelajaran terhadap keberhasilan suatu kegiatan pembelajaran yaitu:
1.             Model pembelajaran digunakan sebagai pedoman guru untuk merencanakan dan me;aksanakan kegiatan pembelajaran.
2.             Model pembelajaaran menjadi pedoman untuk melakukan bimbingan dan arahan kepada siswa dalam mengikuti pembelajaran.[13]
Model pembelajaaran mempunai ciri-ciri[14] sebagai berikut:
1.      Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar tertentu, misalnya model pembelajaran inkuiri yang disusun oleh Richard Suchman dan dirancang untuk mengembangkan penalaran didasarkan pada tatacara penelitian ilmiah.
2.      Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu.
3.      Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan pembelajaran dikelas.
4.      Memiliki perangkat bagian model yang terdiri dari urutan langkah pembelajaran, prinsip reaksi, sistem sosial, sistem pendukung .
5.      Memiliki dampak sebagai akibat penerapan model pembelajran baik damapak langsung dengan tercapainya tujuan pembelajran, maupun dampak tidak langsung yang berhubungan dengan belajar jangka panjang.

C.    Macam-Macam Model Pembelajaran
Banyaknya literatur yang membahas tentang model pembelajaran menyebabkan moel pembelajaran menjadi sebuah tema yang populer. Beberapa literatur membagi model pembelajaran menjadi kelompok yaitu kelompok model sosial, personal, pengolahan informasi, dan kelompok sistem perilaku.[15] Oleh sebab itu guru harus mampu memilih model yang sesuai dengan konteks pembelajaran.
Berikut ini beberapa model-model pembelajaran, yaitu :
1)        Model pembelajaran berbasis Portofolio;
2)        Model pembelajaran diskusi kelompok;
3)        Model pembelajaran simulasi;
4)        Model pembelajaran ceramah;
5)        Model pembelajaran kontektual;
6)        Model pembelajaran kooperat.
7)        Dan lain-lain.
1.      Model pembelajaran berbasis portofolio
Model pembelajaran berbasis portofolio merupakan alternatif cara belajar siiswa aktif (CBSA) dan cara mengajar guru aktif (CMGA). Karena sebelu, selama dan sesudah proses belajar mengajar guru dan siswa dihadapkan pada sejumlah kegiatan. Sedangkan menurut Budiono (2001:1) model pembelajaran berbasis portofolio merupakan satu bentuk dari praktik belajar kewarganegaraan, yaitu suatuinovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar praktik-empirik.[16]


Landasan dari model pembelajaran portofolio adalah:
1.      Belajar mengetahui (Learning to Know),
2.      Belajar berbuat (learning to do),
3.      Belajar hidup bersama ( learning to lie together),
4.      Belajar  menjadi seseorang (learning to be).
Prinsip-prinsip dasar model pembelajaran berbasis portofolio:
1.      Prinsip belajar siswa aktif yaitu berpusat pada siiswa;
2.      Kelompok belajar kooperatif yaitu dengan kerjasama;
3.      Pembelajaran paertisipatorik yaitu melatih siiswa belajar dan melakoni;
4.      Reactive teaching yaitu memotivasi yang tinggi dari guru dengan reaksi guru mengajar;
Adapun langkah-langkah pembelajaran portofolio:
-                  Mengidentifikasi masalah
-                  Memilih masalah untuk kajian siswa
-                 Mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji oleh kelas
-                  Mengembangkan portofolio kelas
-                  Penyajian portofolio (show case)[17]

2.      Model Pembelajaran Diskusi Kelompok
Metode diskusi dalam pembelajaran adalah suatu cara penyajian bahan pelajran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas sesuatu masalah.[18]
Mengelola kelompok diskusi , agar diskusi dapat berjalan denganbaik dan hasilnya optimal serta efektif dan efesien, diperlukan pengelolaan sebaik-baiknya, yang paling tidak berupa langkah-langkah yang meliputi perencanaan, perorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi.
3.      Model pembelajaran Simulasi
Simulasi adalah tiruan atau perbuatan yang hanya pura-pura saja Idari kata simulate yang artiny apura-pura atau berbuat seolah-olah; dan simulation artinya tiruan ataun perbuatan yang pura-pura saja. Simulasi dapat berupa role playing, psikodrama, sosiodrama, dan permainan.[19]
Prinsip-prinsipSimulasi
a)      Dilakukan oleh kelompok siswa, tiap kelomlok mendapat kesempatan melaksanakan simulasi yang sama atau dapay juga berbeda
b)      Semua siswa harus terlibat langsung menurut peranan masing-masing
c)      Penentuan topik disesuaikan dengan tingkat kemampuan kelas, dibicarakan  oleh siswa dan guru
d)     Petunjuksimulasi diberikan terdahulu
e)      Dalam simulasi seyogyanya dapat dicapai tiga domain psikis
f)       Dalam simulasi hendaknya digambarkan situasi yang lengkap
g)      Hendaknya diusahakan terintegrasikannya beberapa ilmu.[20]

4.      Model Pembelajaran Ceramah
ceramah adalah sebuah bentuk interaksi melalui penerangan dan penuturan lisan dari guru kepada peserta didik. Metode ceramah agar menjadi lebih baik  hendaknya:
1.      Digunakan jika jumlah khalayak cukup banyak;
2.      Dipakai jika guru akan memperkenalkan materi pelajaran baru;
3.      Dipakai juka khalayaknya telah mampu menerima informasi melalui kata-kata;
4.      Sebaiknyandiselingi oleh penjelasan melalui gambar atau alat-alat visual lainnya;
5.      Sebelum ceramah dimulai, sebaiknya guru berlatih dulu memberikan ceramah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi siswa akan menurun dengan cepat setelah ia mendengar ceramah lebih dari 20 menit secara terus menerus (E.J. Thokas 1970 dalam Budiardjo,L., 1997:8-15)[21]  langkah-langkah metode ceramah:
1.      Mengemukakan cerita atau visual yang menarik;
2.      Tawarkan sebuah masalah;
3.      Bangkitakan perhatian dengan memberikan pertanyaan;
4.      Headlines;
5.      Contoh dan analogi;
6.      Alat bantu visual;
7.      Tantang spot;
8.      Latihan-latihan yang memperjelas;
9.      Aplikasi problem;
10.  Review peserta didik.[22]
5.      Model Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual ( contextual teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membeuat hubngan antaara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan.[23]
Model Pembelajaran kontekstual mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut:
1.      Proses belajar : belajar tidak hanya sekedar menghafal. Anak belajar dari pengalaman. Proses belajar dapat merubah struktur otak.
2.      Transfer Belajar; siswa belajar dari mengalami sendiri bukan daripemberan orang lain. Ketrampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit). Dan penting bagi siiswa tau untuk apa dia belajar.
3.      Siswa sebagai pembelajar; kecendrungan untuk belajar bidang tertentu. Strategi belajar itu penting. Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna.
4.      Pentingnya lingkungan belajar; menumbuhkan komunitas belajar dalam kelompok itu penting. Umpan balik amat penting bagi siswa yang berasal dari proses penilaian yang benar.[24]
Kontekstual hanya sebagai sebuah strategi pembelajaran. Seperti halnya strategi yang lain, kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendektan kontekstual dapat dilaksanakan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada.
Tujuan pembelajaran kontekstual adalah untuk membekali siswa berupa pengetahuan dan kemampuan (skill) yang lebih realistis karena inti pembelajaran ini adalah untuk mendekatkan hal-hal yang teoritis ke praltis.[25]
6.      Model pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesma siswa dalam tugas- tugas yang terstruktur. [26] Pembelajaran kooperatif lebih dikenal dengan pembelajaran berkelompok.
Belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi terbuka danhubungan yang besifat interpendensi efektif didalam anggota kelompok.[27]
Berapa model pembelajaran kooperatif yaitu 1) model Explit Instruction, 2) model investigation group,3) model penugasan proyek, 4) model think, find and say,5) model think, pair, and share, 6) model pictute and picture, 7) jigsaw, 8) model student team achieved division (STAD), 9) model team game toutnament, 10) model cooperative script, 11) model course review horray, 12) model pembelajaran explicit instruction, 13) model prmbrlajaran arisan, 14) model pembelajaran sosio drama, dan lain-lain.[28]














DAFTAR PUSTAKA

Ariffin .H. Muzayyin, kapita selekta pendidikan Islam, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2011.
Daradjat. Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1996.
Daryanto, Belajar dan Mengajar , Bandung: CV. Yrama Widya, 2010.
Daryanto dan Muljo Rahardjo, Model pembelajaran Inovatif , Yogjakarta: GAVA MEDIA, 2012.
Hasibuan dan Moedjono, peoses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008.
Jalil.Jasman,  Panduan Mudah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) , Jakarta: Prestasi Pustaka, 2014.
Marno dan M. Idris, strategi, metode, dan teknik mengajar:menciptakan keterampilan mengajar secara efektif dan edukatif , Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2014.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam , Jakarta: Kalam Mulia, 2011.
Riyanto. M, pendekatan dan Metode Pembelajaaran , Malang: DEPDIKNAS DirJen Pendidikan Dasar dan Menengah, 2002.
Suryosubroto, proses belajar mengajar di Sekolah ,Jakarta: Rineke Cipta, 2002.
Taniredja . Tukiran, dkk., Model-Model Pembelajaran Inovatif , Bandung : ALFABETA, 2012





Komentar

Postingan Populer