bidang komunikasi
Written by summa Musi
A.
Latar
belakang
Komunikasi adalah hal
yang paling wajar dalam pola tindakan manusia, tetapi juga paling komplit dan
rumit. Bagaimana tidak, komunikasi sudah berlangsung sejak manusia lahir,
dilakukan secara wajar dan leluasa seperti halnya bernafas, namun ketika harus
membujuk, membuat tulisan, mengemukakan pikiran dan menginginkan orang lain
bertindak sesuai dengan harapan kita, barulah disadari bahwa komunikasi adalah
sesuatu yang sulit dan berbelit-belit. Sebagai makluk sosial,
manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Manusia ingin
mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ia ingin mengetahui apa yang terjadi
dalam dirinya. Rasa ingin tahu inilah yang memaksa manusia untuk berkomunikasi.
B.
Rumusan
Masalah
Untuk mempermudah penyelesaian makalh ini kami menyampaikan rumusan
masalah:
1.
Komunikasi Internasional (international communication)
2.
Komunikasi Antar budaya (intercultural communication)
3.
Komunikasi Pembangunan (development communication)
4.
Komunikasi Tradisional (traditional communication)
C.
Tujuan
Pembahasan
Adapun tujuan kami dalam penyelesaian makalah ini adalah untuk mengetahu
dan memahanmi labih dalam lagi tentnag komunikasi , baik dalam konteks pribadi
maupun untuk penyampaian dakwah.
Dalam mempelajari
komunikasi yang memiliki fungsi untuk menginformasikan, mendidik, menghibur,
dan mempengaruhi. Dalam menelaah komunikasi sangatlah luas ruang lingkup dan
mengklasifikasikan ilmu komunikasi sebagai berikut dalam Bidang Komunikasi
a. Komunikasi Sosial (social communication)
b. Komunikasi Organisasi/Manajemen (organization/managemen
communication)
c. Komunikasi Bisnis (business communication)
d. Komunikasi Politik (political communication)
e. Komunikasi Internasional (international communication)
f. Komunikasi Antar budaya (intercultural communication)
g. Komunikasi Pembangunan (development communication)
h. Komunikasi Tradisional (traditional communication)
Yang akan menjadi pembaahasan penulis adalah bidang komunikasi
internasional, komunikasi antar budaya, komunikasi pembangunan, dan komunikasi
tradisional. Secara umum ragam tingkatan ataunkonteks kumunkasi[1]
E.
Komunikasi Internasional (international
communication)
Komunikasi Internasional (bahasa Inggris: international communication) adalah komunikasi yang dilakukan
oleh komunikator yang mewakili suatu negara untuk menyampaikan pesan-pesan yang
berkaitan dengan kepentingan negaranya kepada komunikan yang mewakili negara
lain.
Komunikasi
internasional ditujukan untuk menanamkan gagasan ke dalam benak masyarakat
negara lain atau masyarakat internasional secara keseluruhan. Suatu bangsa perlu
memahami persoalan bangsa lain dan melalukan dialog dengan bangsa lain agar
terjaganya persahabatan antarnegara. Dalam perspektif
kulturalistik, komunikasi internasional kerap mengambil saluran media seni
budaya untuk memperbaiki atau meningkatkan sikap saling pengertian.
Saling mengenal lebih
dekat atau memperkenalkan diri dengan budaya lain. Mendekatkan jarak atau
mengakrabkan hubungan antara satu negara dengan negara lain. Dapat saling memahami dan menghormati di antara bangsa-bangsa.
Diperolehnya pengatahuan tentang budaya bangsa lain yang dapat membantu
menghindari masalah-masalah komunikasi sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.
Sebagai sebuah bidang kajian, Komunikasi Internasional memfokuskan
perhatian pada keseluruhan proses melalui data dan informasi mengalir melalui
batas-batas negara. Subjek yang ditelah bukanlah sekedar arus itu sendiri,
melainkan juga struktur arus yang terbentuk, faktor-faktor yang terlibat di
dalamnya, sarana yang digunakan, efek yang ditimbulkan, serta motivasi yang
mendasarinya.
Dilihat dari pelakunya, komunikasi internasional dapat dipandang sebagai
terbagi antara:
- Official
Transaction transaksi
resmi, yakni
kegiatan komunikasi yang dijalankan pemerintah.
- Unofficial
Transaction transaksi
tidak resmi, yakni kegiatan komunikasi yang melibatkan pihak
non-pemerintah.
Pemerintah, sebagai salah satu pelaku utama komunikasi internasional,
menjalankan sejumlah langkah yang berpengaruh terhadap posisi negara yang
diwakilinya dalam peraturan politik internasional. Pemerintah dapat menjalankan
langkah-langkah yang berefek politik langsung, seperti: diplomasi dan propaganda;
ataupun langkah yang berdampak tidak langsung, seperti: mempromosikan
pendidikan internasional. Kegiatan komunikasi internasional bisa berlangsung antara people to
people ataupun goverment to government. Markham (1970) menyatakan,
unit primer yang diamati dalam komunikasi internasional adalah interaksi antara
dua negara atau lebih yang sifatnya Mass Mediated Communication.
Tegasnya, komunikasi internasional juga adalah studi tentang berbagai
macam Mass Mediated Communication antara dua negara atau lebih yang
berbeda latar belakang budaya. Perbedaan latar belakang tersebut dapat berupa
perbedaan ideologi, budaya, perkembangan ekonomi, dan perbedaan bahasa.
Ada tiga kriteria yang membedakan komunikasi internasional dengan bentuk
komuniksai lainnya:
- Jenis isu,
pesannya bersifat global.
- Komunikator
dan komunikannya berbeda kebangsaan.
- Saluran
media yang digunakan bersifat internasional.
Dengan kriteria demikian, komunikasi internasional dapat didefinisikan
pula sebagai “sebuah komunikasi yang interaksi dan ruang lingkupnya bersifat
lintas negara serta berlangsung di antara orang-orang yang berbeda kebangsaan
dan memiliki jangkauan penyampaian pesan melintasi batas-batas wilayah suatu
negara”.
Fokus studi komunikasi internasional pada awalnya adalah studi tentang
arus informasi antar negara-negara dan dalam perkembangannya muncul studi
tentang propaganda. Adanya perubahan paradigma komunikasi internasional dari Free Flow
Information manjadi Free and Flow Information menyebabkan mulai
berkembangnya fokus studi komunikasi internasional antara lain studi tentang
imperialisme media, globalisasi, privatisasi, era informasi. Sejalan dengan berubahnya
paradigma arus komunikasi internasional mulai muncul juga Global Communication
Order atau yang kita kenal dengan “tata komunikasi dan informasi dunia
baru”. Munculnya wacana ini dipicu dari bermunculannya pemimpin-pemimpin dunia
ketiga yang mulai menyadari bahwa paradigma komunikasi internasional Free Flow
Information ternyata bukanlah arus informasi bebas yang seimbang. Pada
kenyataanya arus informasi bebas lebih berkembang menjadi arus utara ke selatan
dan barat ke timur tetapi tidak ada arus informasi yang seimbang dari timur ke
barat atau dari selatan ke utara.
Fenomena kontemporer mengenai komunikasi internasional yang dapat diamati
saat ini, adalah bagaimana hubungan antarnegara kini semakin dinamis dengan
perkembangan teknologi informasi. Banyak masalah antarnegara yang dibahas dalam
bingkai komunikasi internasional, yang tidak melulu masalah politik dan
keamanan. Masalah-masalah lingkungan hidup, kesejahteraan, kini juga menjadi
masalah bersama di antara banyak negara. Bahkan terkadang terdapat satu masalah
yang dibahas secara global oleh masyarakat dalam dialog global civil society,
semisal masalah terorisme. Masalah ini bukan lagi notabene masalah
pemerintah atau negara saja, tetapi telah menjadi masalah masyarakat.
1.
Fungsi komunikasi internasional antara lain:
a. Mendinamisasikan hubungan internasioanl
yang terjalin antara dua negara atau lebih serta hubungan di berbagai bidang
antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda negara/kebangsaan.
b. Membantu/menunjang upaya-upaya
pencapaian tujuan hubungan internasioanl dengan meningkatkan kerjasama
internasional serta menghindari terjadinya konflik atau kesalahpahaman baik
antara pemerintah dengan pemerintah maupun antar penduduk .
c. Merupakan teknik untuk mendukung
pelaksanaan politik luar negeri bagi masing-masing negara untuk memperjuangkan
pencapaian kepentingan di negara lain.[2]
F.
Komunikasi Antar budaya (intercultural
communication)
Komunikasi antar
budaya adalah kumikasi yang terjadi di
antara orang-orang yang mermiliki kebudayaan yang berbeda bisa ras, etnik,
sosial okonomi. Atau gabungan dari
perbedaan ini.
G.
Komunikasi Pembangunan (development
communication)
selama ini adalah bahwa komunikasi tidaklah terlalu penting dalam proses
pembangunan. Hal ini disebabkan karena teori-teori pembangunan yang dikemukakan
para pemikir ekonomi secara umum hanya dikembangkan dalam tradisi teori
pertumbuhan ekonomi, yaitu berisi gambaran mengenai proses perubahan ekonomi
yang telah berlangsung di negara-negara maju. Titik tolak teori-teori tersebut
selalu bermula dari pemberdayaan faktor-faktor utama produksi, yakni tanah, modal,
dan tenaga kerja. Dengan kata lain amat jarang pembahasan yang secara eksplisit
mencantumkan tentang komunikasi. Pada beberapa kasus pembahasan komunikasi
dalam rangka pembangunan hanya ditempatkan sebagai “hiasan bibir” namun
pernyataan-pernyataan tersebut lantas beralih ke teori pertumbuhan ekonomi
melulu, seakan-akan itulah penjelasan yang lengkap dan memadai bahkan ironisnya
komunikasi tampak justru ditempatkan sebagai sambungan dari uraian tentang
“transportasi”.
Padahal, menurut Frey (dalam Nasution, 1996:81) “kalau diamati dengan
teliti, sebenarnya banyak fase dari pertumbuhan ekonomi menurut teori-teori
pembangunan tersebut yang merupakan tempat komunikasi memainkan peranan
penting”.
Frey memberikan
contoh mengenai sistem harga (pricing system) yang dapat dilihat sebagai suatu
sistem komunikasi yang terspesialisasikan, yang menyediakan informasi esensial
bagi perhitungan yang rasional untuk perencanaan maupun acuan bagi para pembuat
keputusan ekonomi di semua tingkatan. Frey mengusulkan agar dalam pembahasan
tentang pembangunan perlu dihubungkan dengan analisa yang lebih mendalam pada
efek komunikasi yang memiliki relevansi dengan pembangunan. Dikemukan frey
(dalam Nasution, 1996:83) “bahwa sementara ongkos modernisasi boleh jadi
demikian besarnya, namun sampai tingkat tertentu dapat diatasi melalui sistem
komunikasi”.[3]
Berkatian dengan
tingkat analisanya, Hedebro (dalam Nasution, 1996:79) mengidentifikasi tiga
aspek komunikasi dan pembangunan, yakni:
1.
Pendekatan yang berfokus pada pembangunan suatu bangsa, dan bagaimana
media massa dapat menyumbang dalam upaya tersebut. Di sini, politik dan fungsi-fungsi media massa dalam pengertian yang umum
merupakan objek studi, sekaligus masalah-masalah yang menyangkut struktur
organisasional dan pemilikan, serta kontrol terhadap media. Untuk studi-studi
jenis ini, sekarang digunakan istilah kebijakan komunikasi, dan merupakan
pendekatan yang paling luas dan bersifat general (umum).
2.
Pendekatan yang juga dimaksudkan untuk memahami peranan media massa dalam
pembangunan nasional, namun jauh lebih spesifik. Media dilihat sebagai pendidik atau guru, idenya
adalah bagaimana media massa dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan kepada
masyarakat bermacam keterampilan, dan dalam kondisi tertentu mempengaruhi sikap
mental dan perilaku mereka. Persoalan utama dalam
studi jenis ini adalah, bagaimana media massa dapat digunakan secara paling
efisien untuk mengajarkan pengetahuan tertentu bagi masyarakat suatu bangsa.
3.
Pendekatan yang berorientasi kepada perubahan yang terjadi pada suatu
komunitas lokal atau desa. Konsentrasinya adalah pada memperkenalkan ide-ide baru, produk dan
cara-cara baru, dan penyebarannya di suatu desa atau wilayah. Studi jenis ini
mendalami bagaimna aktivitas komunikasi dapat dipakai untuk mempromosikan
penerimaan yang luas akan ide-ide dan produk baru.
Dalam kaitannya dengan pembangunan nasional suatu bangsa,
Schramm (dalam Nasution, 1996:85) merumuskan tugas pokok komunikasi sebagai
berikut:
1.
Menyampaikan kepada
masyarakat, informasi tentang pembangunan nasional, agar mereka memusatkan
perhatian pada kebutuhan akan perubahan, kesempatan dan cara mengadakan
perubahan, sarana-sarana perubahan, dan membangkitkan aspirasi nasional.
2.
Memberikan kesempatan
kepada masyarakat untuk mengambil bagian secara aktif dalam proses pembuatan
keputusan, memperluas dialog agar melibatkan semua pihak yang akan membuat
keputusan mengenai perubahan, memberikan kesempatan kepada para pimpinan
masyarakat untuk memimpin dan mendengarkan pendapat rakyat kecil, dan
menciptakan arus informasi yang berjalan lancar dari bawah ke atas.
3.
Mendidik tenaga kerja
yang diperlukan pembangunan, sejak orang dewasa, hingga anak-anak, sejak
pelajaran baca tulis, hingga keterampilan teknis yang mengubah hidup
masyarakat.
H.
Komunikasi Tradisional (traditional
communication)
Apakah demokratisasi komunikasi
dapat berjalan dengan baik sesuai dengan harapan reformasi politik Kekuatan
tradisional ng justru mengedepankan
komunikasi yang bersifat paternalistic. Pemilik otoritas social, ekonomi dan
politik bersikap etnosentrisme, komunalisme
dan sub nasional
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Komunikasi merupakan hal yang sangat penting untuk kita dalam bersosial dan
berkembang baik dalam ruang lingkup kehidupan keluarga dan bernegara, untuk
menunjang masa depan yang baik maka pergunakan komunikasi yang baik, dalam
bidang internasionla sebaikny akita lebih peka terhadap perkembangan teknologi
dan bidang antarbudaya kita lebih bisa menjujung tinggi nilai-nilai budaya
negara kit adan memperkenalkannya pada dunia. Tetap menjaga .
Demikianlah kkesimpulan dari kami semoga kita semua dapat berkomunikasi
dengan baik dan khususny pada penulis untuk selalu komitmen dalam berkomunikasi
untuk menyiarkan agama Islam melanjutkan perjuangan Rasulullah Saw. Amin
Komentar
Posting Komentar