pendiidkan dalam perspektif Al Qur'an
20 september 2014
by summa musi sdm
by summa musi sdm
Islam
adalah satu-satunya agama yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. yang mana dapat
dipahami melalui turunnya wahyu pertama Al Qur’an kepada Rasulullah SAW, surat
Al ‘Alaq ayat 1-5. Mengenai wahyu pertama dalam surat Al-‘Alaq tersebut dapat
dijadikan motivasi yang besar untuk kita umat manusia umumnya dan umat muslim
khususnya untuk terus mengenal dan memepelajari ilmu agar tidak selalu dijajah
dan diatur oleh orang dan bangsa lain.
Dalam
pendidikan agama Islam, nilai-nilai al Qur’an merupakan elemen dasar dlam
kurikulum dan lembaga pendidikan, tidak boleh tidak, harus memperhatikan
membawa nilai-nilai al Qur’an.
Sebagaimana dapat dipahami belajar menuntut ilmu ialah sebagai aktivitas yang
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sebagai kewajiban setiap
individu muslim –muslimatdalam memeperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat
kehidupannya meningkat.
Adapun
uraian dari latar belakang di atas, makalah ini membahas tentang Al Qur’an
sebagai kitab induk pendidikan yang akan dijelaskan dengan sub-sub judul sebagai berikut:
1.
Bagaimana
pengertian Al Qur’an dan pengertian pendidikan.
2.
Bagaiamana
anjuran pendidikan dalam Al Qur’an.
3.
Bagaimana
penjelasan ayat Al ‘Alaq.
- Pengertian
Al-Qur’an
Secara
bahasa kata artinya
baca dan bacaan” dan kata mengandung arti pembacaan atau bacaan. Adapun definisi Al-Qur’an adalah
kalam Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan atau diwahyukan kepada
Nabi Muhammad Saw dan membacanya adalah ibadah.[1]
Al-Qur’an merupakan kitab induk maksundnya adalah rujukan utama dari segala
sains dan pengetahuan sejauh mana keabsahan ilmu harus diukur standarnya adalah
Al-Qur’an.
Salah
satu gagasan yang paling canggih, komperenship, dan mendalam yang dapat
ditemukan dalam Al-Qur’an adalah konsep ilmu pengetahuan. Sesungguhnya, tingkat
kepentingannya di bawah konsep tauhid, yang merupakan tema sentral dan mendasar
dari Al-Qur’an. Pentingnya konsep ini terungkap dalam kenyataan bahwa Al-Qur’an
menyebut akar kata “ilmu” dan turunnya
tidak kurang dari 744 kali.
- Pengertian
pendidikan
Apa
pendidikan itu? Dalam buku Marimba (1989:19) menyebutkan bahwa pendidikan
adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan
jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya keperibadian yang utama.
Dalam pengertian yang luas pendidikan adalah pengembangan peribadi dalam semua
aspeknya, dengan penjelasan bahwa yang dimaksud pengembangan pribadi ialah yang
mencakup pendidikan oleh diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan, dan
pendidikan oleh orang lain (guru). Seluruh aspek mencakup jasmani, akal, dan
hati.[2]
Pendidikan
merupakan hal yang sangat strategis dalam membangun sebuah peradaban, khususnya
peradaban yang Islami.
- Anjuran Pendidikan
dalam Al Qur’an
Sebagaimana
dapat dipahami belajar menuntut ilmu ialah sebagai aktivitas yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan manusia, sebagai kewajiban setiap individu muslim – muslimat
dalam memeperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat kehidupannya meningkat.[3]
Disebutkan dalam surat Al Mujadilah : 11
Artinya” … katakanlah Allah
meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang –orang yang diberi
pengetahuan, beberapa derajat….”
Al
Qur’an telah diterjemahkan pada pertengahan abad ke-17 Abdul Ra’uf Fansuri,
seorang Ulama dari Singkel, Aceh, kedalam bahasa Melayu, walaupun mungkin
terjemahannya itu ditinjau dari sudut ilmu bahasa Indonesia modern belum
sempurna, tetapi pekerjaan itu adalah besar jasanya sebagai pekerjaan perintis
jalan.[4]
Al
Qur’anulkarim sebagai suatu mukjizat yang terbesar bagi Nabi Muhammad Saw. Amat
dicintai oleh kaum muslimin, karena fashahah serta balaghahnya dan sebagai sumber
petunjuk kebhagian hidup didunia dan akhirat, karena kecintaannya kepada Al
Qur’an, dan untuk membuktikan kebenarannya banyak yang mengarang dan
menerjemahkan bermacam-bermacam buku ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan
anjuran Al Qur’an, ayat yang mula-mula turun ialah yang berhubungan dengan
pengetahuan, yaitu QS. Al ‘Alaq :1-5,
Dengan
menulis dan membaca akan menaikan derajat seseorang (menuntut ilmu). Isi
kandungannya antara lain, perintah membaca Al Qur’an, manusia dijadikan dari
segumpal darah, Allah menjadikan kalam sebagai alat mengembangkan pengetahuan,
manusia bertindak melampaui batas merasa dirinya serba cukup, ancaman Allah
terhadap orang-orang kafir yang menghalang-halangi kaum muslimin melaksanakan
perintah-Nya.
Adapun
ide-ide yang terkandung didalam QS. Al ‘Alaq :1-5, membaca sebagai gudang ilmu,
adab membaca, membaca berulang-ulang baik cara ataupun metode belajar, sumber
ilmu pena / sarana, ilmu Allah atau materi pengetahuan yang diajari. Ayat yang
lain ialah tersebut dalam surat Az Zumar:9:
Artinya” …katakanlah: “adakah sama orang –orang
yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang
yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran.”
Maksud
dari potongan ayat diatas adalah bahwa Allah akan mengangkat orang-orang mukmin
yang melaksanakan segala perintahnya dan perintah Rasul-Nya dengan memberikan
kedudukan yang khusus, baik dari segi pahala maupun keridhaan-Nya. Karena Allah
tidak akan menyia-nyiakan setiap perbuatan yang dilakukan hamba-Nya melainkan
akan diberi balasan yang setimpal di dunia dan di akhirat.
Ayat
diatas juga sering digunakan para ahli untuk mendorong di adakannya kegiatan
dibidang ilmu pengetahuan dengan cara mengunjungi atau mengadakan dan
menghadiri majelis ilmu orang yang mendapatkan ilmu itu selanjutnya akan
mencapai derajat yang tinggi dari Allah
SWT.[5]
Dalam
surat Al An-‘am ayat 38:
“…tidaklah kami alpakan sesuatupun
dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.”
Ditegaskan
juga dalam ayat lain, yaitu surat An Nahl ayat 89:
“… kami turunkan kepadamu Al Kitab
(al Qur’an)) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan
kabar gembira bagi orang-orang yang beserah diri.”
Untuk
itu menjadi hal yang sangat penting dan mendasar bagi para muslim untuk
memehami konsep pendidikan menurut Al Qur’an dan As-Sunnah.
1.
Kedudukan
Ilmu Pengetahuan
Kedudukan
ilmu pengetahuan secara singkat dalam Islam adalah sebagai berikut:
a.
Manusia diangkat
sebagai Khalifatullah (pengusa), dan dibedakan dari makhluk yang lain kerena
ilmunya. Salah satu contohnya adalah ketika Al-Qur’an bercerita tentang Nabi
Adam yang diberi pengetahuan tentang konsep totalitas dan malaikat disuruh
sujud kepadanya. (QS. Al Baqarah 31-33)
b.
Hakikat manusia
tidak terpisah dari kemampuannya untuk mengmbangkan ilmu pengetahuan. Ilmu yang
disertai iman adalah ukuran derajat manusia. Manusia ideal dalam Al Qur’an
adalah manusia yang mencapai ketinggian iman dan ilmu.(QS. Mujadilah:11)
c.
Al Qur’an
diturunkan dengan ilmu Allah (QS. Hud:14). Dan hanya dapat direnungkan atau
dimengerti maknanya oleh orang-orang yang berilmu. Al Qur’an hanya jelas bagi
orang-orang berilmu. Untuk memperolah petunjuk Al Qur’an, bukan saja diperlukan
ketakwaan dan keimanan, tapi juga ialah
pengetahuan.
d.
Al Qur’an
memberikan isyarat bahwa yang berhak memimpin umat ialah yang memiliki ilmu
pengetahuan. (QS. Al Baqarah: 251)
e.
Allah melarang
manusia mengikuti satu perbuatan tanpa memiliki ilmu mengenainya. (QS. Hud :47)
[6]
2.
Objek
Ilmu dan memperolehnya
Secara garis besar objek ilmu
dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu alam materi dan alam non materi.
Sains mutakhir yang mengarahkan pandangan pada alam materi, menyebabkan manusia
membatasi ilmunya pada bidang tersebut. Bahkan sebagian mereka tidak mengakui
adanya realitas yang tidak dapat dibuktikan di alam materi.
Objek ilmu menurut ilmuan Muslim
mencakup alam materi dan non materi. Karena itu, sebagian ilmuan Muslim
khususnya kaum sufi melalui ayat-ayat Al Qur’an memperkenalkan ilmu yang
menggambarkan ilmu yang mereka sebut Al-Hadiarat Al Ilahiyyah al Khams (lima
kehadiran Ilahi) untuk menggambarkan keseluruhan realitas wujud. Kelima hal itu
adalah sebagai berikut:
a)
Alam nasut (alam
materi),
b)
Alam malakut
(alam kejiwaan),
c)
Alam jabarut
(alam ruh),
d)
Alam lahut
(sifat-sifat Ilahiyah), dan
e)
Alam hahut
(Wujud Zat Ilahi).[7]
Dalam
konteks ini Al Qur’an menegaskan:
Artinya, “ …tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui. Mereka hanyua mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia,
sedang mereka tentang kehidupan akhirat adalah lalai.” QS, Al Rum: 6-7
Al Qur’an melihat pendidikan sebagai
sarana yang strategis dan ampuh dalam mengangkat harkat dan martabat manusia
dari keterpurukannya sebagaimana dijumpai di abad jahiliyah. Hal ini dapat
dipahami karena dengan pendidikan seseorang akan memiliki bekal untuk memasuki
lapangan pekerjaan, merebut berbagai kesempatan dan peluang yang menjajnjikan
masa depan, penuh percaya diri dan tidak mudah diperalat oleh orang lain.
Namun sangat disayangkan pula, masih
banyak umat muslim belum sepenuhnya menyadari akan pentingnya pendidikanitu.
Buktinya dapat dilihat mayoritas umat Islam masih amat terbelakang dalam bidang
ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, kebudayaan, peradaban dan lain
drbagainya, umat muslim seharusnya dapat mengamalkan ajaran Al Qur’an dan As
Sunnah yang sudah turun sejak 15 abad yang lalu.
Ini dikarnakan kurangnya pemahaman
yang diarahkan langsung olah sumbernya, seharusnya orang diantara Muslim harus
ada yang tidak mempelajari sekedarnya saja, tetapi harus mempelajari secara
luas dan dalam.[8]
Hal ini disebutkan dalam surat At Taubah ayat 122, yang
artinya:
“mengapa tidak pergi dari
tiap-tiapgolongan diantara kalian beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan
tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumya apa bila mereka telah
kembali (dari peperangan) supaya mereka dapat menjaga dirinya.” QS. At Taubah
:122
Rasulullah
Saw. Pernah bersabda:“barang siapa
menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki
kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki keduanya
maka dengan ilmu.”
Dapat
dipahami, untuk menempuh kehidupan di dunia maupun di akhirat dibutuhkan ilmu
yang sekiranya dpat membekali dalam perjalanan hidup. Dengan demikian
kebahagiaan di dunia dan diakhirat sebagai tujuan hidup insya Allah akan
tercapai.
Rasulullah Saw
bersabda: “tuntutlah ilmu dari buaian
sampai liang lahat,”
Maksudnya
adalah bahwa menuntut imu, mengenyam pendidikan itu tidak terbatas dan di
batasi, baik muda atau pun tua, kaya ataupun miskin, yang tepenting ialah
kemauan dan usaha yang tulus untuk terus melakukan yang terbaik.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Setelah
memahami isi makalah ini, sehingga dapat penulis simpulkan beberapa hal
diantaranya adalah:
1.
Sudah jelas
dalam AlQur’an, bahwasannya kitab induk dari pendidikan adalah Al Qur’an, yang
disebutkan dalam surat yang pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw.
2.
Dengan
pendidikan banyak yang bisa didapatkan dalam menuju kesejahteraan hidup
manusia, diantaranya dapat mengatur hidup masing-masing da tidak lagi
diperbudak atau diatur-atur oleh orang lain, mengangkat derajat manusia dengan
kekuatan iman dan ilmu.
3.
Dengan memahami
isi kandungan ayat QS. Al ‘Alaq ayat 1-5 terbuktilah tentang nilai membaca,
menulis, dan berilmu pengetahuan.
4.
Menuntut ilmu
itu tidak mengenal usia, baik tua maupun muda.
Rasulullah
bersabda : “tuntutlah ilmu dari buaian
sampai liang lahat,”
- Saran
Mengingat
betapa pentingnya bagi kita umat muslim pada khususnya dan manusia pada umumnya
tetang berilmu pengetahuan, mari kita sadari dan membuka lagi wawasan ilmu yang begitu banyak sudah disebutkan dalam Al
Qur’an, baik dalam ilmu pendidikan, moral, social, bahkan sampai teknologi dan
ilmiah terkandung did lam Al Qur’an. Andai kata tidak karena kalam niscaya
banyak ilmu pengetahuan yang tidak terpelihara idak tercatat dan banyak ajaran
agama yang hilang, karena orang-orang dahulu kala tidak semua dikenal oleh
orang-orang sekarang, baik ilmu seni dan ciptaan –ciptaan mereka.


Komentar
Posting Komentar