FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI

By: summa wardaya musi

Filsafat  merupakan renungan mengenai segala sesuatu, sebagai upaya pemahaman dan memperoleh maknanya , yang penting bagi landasan pertimbangan kelayakan tindakan, sesuai dengan norma yang berlaku. Pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?

A.   Rumusan Masalah
Adapun rumusan  masalah yang penyusun jadikan patokan pembahasan agar memudahkan penulisan dan penyelesaian makalah ini yaitu:
1.     Pengertian dari filsafat ilmu.
2.     Bagaimana memperoleh atau mempelajarinya.

B.   Tujuan Pembahasan
Setelah pembuatan maklah ini dan beberapa hal yang telah dibahas diharapkan dapat mewujudkan tujuan yang baik pula, diantaranya:
1.     Pengertian dari filsafat ilmu.
2.     Bagaimana memperoleh atau mempelajarinya.



BAB  II
FILSAFAT ILMU

A.   Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu adalah merupakan bagian dari filsafatyang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu.[1] Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi.
Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi. cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri
Istilah filsafat bisa ditinjau dari dua segi, semantik dan praktis. Segi semantik perkataan filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, philosophia yang berarti philos  = cinta.  suka (loving) dan Sophia = pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi philosopia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafah akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut philoshoper  dalam bahasa Arab disebut failasuf. Dari segi praktis filsafat berarti alam pikiran atau alam berfikir. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat maknanya berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh.[2]
Ilmu berusaha menjelaskan tentang apa dan bagaimana alam sebenarnya dan bagaimana teori ilmu pengetahuan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi di alam. Untuk tujuan ini, ilmu menggunakan bukti dari eksperimen, deduksi logis serta pemikiran rasional untuk mengamati alam dan individual di dalam suatu masyarakat.
Filsafat dan ilmu pada dasarnya adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Filsafat telah merubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola pikir tersebut membawa perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi, baik yang berkaitan dengan  makro kosmos maupun mikrokosmos. Dari sinilah lahir ilmu-ilmu pengetahuan yang selanjutnya berkembang menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih kecil dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya.[3]
Filsafat sebagai induk dari segala ilmu membangun kerangka berfikir dengan meletakkan tiga dasar utama, yaitu ontologi, epistimologi dan axiologi. Maka Filsafat Ilmu menurut Jujun Suriasumantri merupakan bagian dari epistimologi (filsafat ilmu pengetahuan yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah). Dalam pokok bahasan ini akan diuraika pengertian filsafat ilmu, dan obyek yang menjadi cakupannya.

B.   Cara Memeplajari Filsafat Ilmu
Jelas bahwa filsafat sebagai “ibu ilmu” atau induk ilmu bermaksud menunjukkan sebuah hal mendasar dalam mencari pemikiran keilmuan dan mengerjakan ilmu (keilmuan). Intinya, ilmu, termasuk ilmuwan dan lembaga keilmuan, segala prestasi kemajuannya harus dilihat dalam kelebihan dan kekuarangan manusia sebagai Homo Sapiens.
Bagi filsafat, manusia itu selalu tahu diketidaktahuan-nya, Konsekuensinya, semakin banyak yang makin diketahui, baik melalui kegiatan keilmuan maupun seni budaya, namun, semakin banyak pula misteri ketidaktahuan yang seakan terus mendangkalkan pengetahuan, kekaguman, dan terus menantang rasa “ingin tahu” manusia. Bahkan, semakin banyak penemuan dalam rangka pemecahan masalah-masalah kehidupan, namun makin banyak pula “kecemasan mekar” yang terus mengerogoti manusia. Dewasa ini, fenomena “ketidaktahuan filosofis” ini, telah berkembang luas dan makin mengancam eksistensi manusia secara utuh.
Sesungguhnya, akar semua persoalan di atas, terletak pada kecenderungan pengembangan pikiran atau pengetahuan yang tidak utuh (tidak akumulatif). Pemikiran, ilmuwan, dan profesional, telah memisahkan antara kebenaran-kebenaran logis dari kebenaran-kebenaran etis (nilai) dan moral. Filsuf kritis menjelaskan bahwa banyak pemikir, dengan dalih sebagai “majikan kebenaran”, berusaha membangun berbagai bentuk “sesat pikir” untuk menciptakan kebingungan, pembodohan, kebodohan atau ketidaktahuan, serta melalukan berbagai kepalsuan, kebohongan, pembusukan kebenaran, dan penghancuran peradaban manusia.
Filsafat ingin menunjukkan adanya dimensi kritis untuk semakin terbuka dan berendah diri dalam menguji serta memurnihkan pikiran atau pengetahuan itu sendiri dari goan-godaan kejahatan sehingga manusia akan semakin memiliki ketajaman bathin (berpikir dengan hati) dalam hal mengembangkan pikiran atau pengetahuannya untuk membentuk diri atau kepribadian secara utuh. Melalui itu, orang akan terbuka pada teguran nurani, koreksi, kritikan, dan tuntutan-tuntutan perbaikan sehingga orang mampu membangun ketegori pikiran dan pengetahuannya di dalam tatanan nilai yang menjadi inti pergumulan kemanusiaan itu sendiri.
Intinya, filsafat hendak menunjukkan bahwa pikiran atau pengetahuan itu selalu punya empat dimensi yang salig bertautan, yaitu: pertama, dimensi aktif untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keingintahuan manusia dalam sebuah konstelasi peradaban yang luas dan luhur guna membangun kehidupan secara nyata; kedua; dimensi kreatif, dengan tujuan untuk mengolah budi (kecerdasan), mampu melakukan imajinasi teori, mengubah fakta menjadi permasalahan dan terobosan penyelesaiannya dalam berbagai lakon aktual; ketiga, dimensi kritis, untuk membangun kesadaran diri, otonomi diri, serta kemampuan nalar dalam menilai dan mempertanyakan berbagai kemungkinan (klaim-klaim kebenaran bersifat keilmiahan, ideologis, yuridis, maupun religius) dalam rangka pengembangan dan penegasan eksistensi (pilihan hidup); keempat, dimensi kontemplatif untuk mengontrol dan mengendalikan pikiran atau pengetahuan itu sendiri sehingga tidak terjebak dalam permainan arus keinginan dan kejahatan.
Titik berangkat filsafat yang pertama adalah kegiatan manusia, dalam hal ini, secara khusus, kegiatan pengetahuan dan kehendak manusia yang merupakan kegiatan pertama yang secara langsung dialami oleh manusia. Manusia, di dalam kegiatannya yang pertama dimaksud, menjadi sadar akan eksistensinya sendiri dan eksistensi orang atau hal lainnya. Filsafat, karena itu, berusaha mendalami, menyingkap, dan menjelaskan kesadaran eksistensi diri manusia dan sesama yang lain, secara luas dan mendalam sampai ke akar-akar realitasnya yang fundamental.
 Proses penelitian filsafat itu melai dari bentuk-bentuk pengatahuan biasa yang dimiliki individu dalam kehidupan sehari-harinya, warisan budaya masa lalu, dan juga hasil penelitian dan pemikiran ilmu-ilmu lainnya yang bersifat khusus. Jenis-jenis pengatahuan khusus tersebut, sungguh membantu filsafat, tetapi juga membatu bentuk-bentuk pengetahuan khusus dan ilmu lain tersebut untuk makin memantapkan dan menyempurnakan prinsip-prinsip dasarnya.
Filsafat berusaha menerangi dunia dengan rasio manusia, dan karennya, filsafat lebih merupakan “kebijaksanaan duniawi”, bukan “kebijaksanaan ilahi” yang sempurna dan mutlak abadi. Filsafat, karena itu, berbeda dengan ilmu teologi. Teologi berusaha melihat Allah dan kegiatannya di dalam dunia berdasarkan wahyu adikodrati.
Biarpun filsafat merupakan kegiatan dan produk rasio, ia tetap bukan ciptaan rasio semata. Alasannya, karena rasio itu sendiri merupakan bagian integral dari keutuhan eksistensi manusia yang terkait dengan aspek-aspek lainnya dari tatanan eksistensi manusia itu sendiri yang bersifat “mono pluralis” (satu di dalam banyak dan banyak di dalam satu). Filsafat tidak hanya berupaya memuaskan pencaharian manusia akan kebenaran, melainkan ia juga berusaha menerangi dan menuntun arah atau orientasi kehidupan manusia secara kritis dan jelas, bukan dengan spekulasi-spekulasi yang absurd, hambar, dan penuh hayalan yang sia-sia.
C.   Manfaat mempelajari Filsafat Ilmu
Diantara manfaat dari belajar filsafat adalah:
1.    membuat manusia akan lebih menjadi manusia. Maksudnya, dengan belajar filsafat maka manusia akan makin setia mendidik dan membangun dirinya atas dasar kesadaran maupun tanggung jawab kemanusiaannya untuk menemukan jati dirinya yang khas. Manusia, melalui itu dituntun untuk mengatasi permasalahan-permasalahan hidupnya dalam sebuah proses penemuan yang luas-mendalam, tepat, arif, dan bijaksana.
2.    melatih orang untuk memandang dengan luas. Jadi, dengan belajar filsafat maka orang disembuhkan dari “kecenderungan kepicikan” yaitu dari “Akuisme” dan “Akusentrisme” yang membelenggu sehingga orang tidak dapat berpikir sehat luas, dan obyektif. “Akuisme” atau “Akusentrisme”, di samping merupakan sebuah belenggu, juga merupakan sebuah musuh peradaban, karena hanya menempatkan manusia sebatas obyek bagi dirinya sendiri.
3.    membimbing orang untuk dapat berpikir sendiri sehingga orang akan memiliki kemandirian dan kreativitas intelektual (pemikiran) di dalam menghadapi dan menyiasati realitasnya. Orang dilatih dan dididik untuk harus berpikir secara mandiri, terutama dalam lapangan kerohanian. Orang dibimbing untuk harus mempunyai pendapat sendiri jika perlu dapat dipertahankannya untuk terus menyempurnakan cara berpikirnya, sehingga makin mencapai kematangan dan kedewasaan.
D.   Objek Filsafat Ilmu
Imam Raghib al-Ashfahani mengatakan bahwa ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakekatnya. Ia terbagi dua, pertama mengetahui inti sesuatu itu, kedua menghukum adanya sesuatu pada sesuatu yang ada atau menafikan sesuatu yang tidak ada, maksudnya mengatahui hubungan sesuatu dengan sesuatu.[4]
Louis Kattsoff mengatakan bahasa yang dipakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa hal saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba untuk berbicarakan mengenai ilmu pengetahuan dan bukannya dalam ilmu pengetahuan.Namun apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuan mungkin penting pula bagi seorang filsuf.[5]
Dari sudut pandang lainnya Raghib al-Asfahani mengatakan bahwa ilmu dapat pula dibagi menjadi dua bagian yaitu ilmu rasional dan dokrinal. Ilmu rasional adalah ilmu yang didapat dengan akal dan penelitian, sedangkan ilmu dokrinal merupakan ilmu yang didapatkan dengan memberitakan wahyu dan nabi.[6]


1)    Empirisme
Salah satu konsep mendasar tentang filsafat ilmu adalah empirisme. atau ketergantungan pada bukti. Empirisme  adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari pengamatan atau pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.
2)    Falsifiabilitas
Salah satu cara yang digunakan untuk membedakan antara ilmu dan bukan ilmu adalah konsep falsifiabilitas. Konsep ini digagas oleh karl poper pada tahun 1919-20 dan kemudian dikembangkan lagi pada tahun 1960-an. Prinsip dasar dari konsep ini adalah, sebuah pernyataan ilmiah harus memiliki metode yang jelas yang dapat digunakan untuk membantah atau menguji teori tersebut. Misalkan dengan mendefinisikan kejadian atau fenomena apa yang tidak mungkin terjadi jika pernyataan ilmiah tersebut memang benar
1.     Filsafat ilmu adalah merupakan bagian dari filsafatyang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial.
2.     Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi.
3.     Intinya, filsafat hendak menunjukkan bahwa pikiran atau pengetahuan itu selalu punya empat dimensi yang salig bertautan, yaitu: pertama, dimensi aktif untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keingintahuan manusia dalam sebuah konstelasi peradaban yang luas dan luhur guna membangun kehidupan secara nyata; kedua; dimensi kreatif, dengan tujuan untuk mengolah budi (kecerdasan), mampu melakukan imajinasi teori, mengubah fakta menjadi permasalahan dan terobosan penyelesaiannya dalam berbagai lakon aktual; ketiga, dimensi kritis, untuk membangun kesadaran diri.






[1] Vardiansyah, Dani. Filsafat Ilmu komunikasi: Suatu Pengantar, Indeks, Jakarta.  2008. Halaman 20
[2] H.A Mustofa, 2004, Filsafat Islam, hal. 9
[4] Yusuf Qardawi, 1998, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan
Ilmu Pengetahuan, hal.
88
[5]     H.A Mustofa, 2004, Filsafat Islam, hal. 14
[6] Yusuf Qardawi, 1998, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan
Ilmu Pengetahuan,
hal. 88

Komentar

Postingan Populer