METODE PENELITIAN KUANTITATIF
MAKALAH
METODE PENELITIAN PENDIDIKAN
DISUSUN OLEH : SUMMA WARDAYA MUSI
NIM: 201210640
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
SYEKH ABDUR RAUF
(STAISAR)
2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian adalah proses pemecahan masalah
dengan menerapkan metode ilmiah.[1]
Sebelum memasuki pembahasan mengenai penelitian kantitatif, perlu menelusri
terlebih dahulu akar dari penelitian, Secara umum, jenis
penelitian berdasarkan pendekatan analisisnya dibedakan menjadi dua, yaitu
kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan ini lazim juga disebut sebagai
pendekatan, ancangan, rencana atau desain.[2] Metode
penelitian lebih dekat dengan teknik. Misalnya, penelitian dengan pendekatan
kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Dengan kata lain, metode
deskriptif tersebut dapat dikatakan juga sebagai teknik deskriptif.
Eksestensi dari suatu teori yang
dapat hidup sangat mempermudah kemajuan ilmu pengetahan yang secara simultan
menjelaskan banyak fenomena.[3] Dengan
penelitian ilmiah sumber pengetahuan yang diperoleh lebih dipercaya karena
paling efesien dalam metodenya dibandigkan dengan pengalaman teoritis, dan penalaran deduktif.
B. Rumusan Masalah
Setiap permasalahan yag akan diselesaikan dan
dapat dipaparkan dengan mudah , maka rumsan masalah pada makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Prinsip-Prinsip Penelitian;
2. Beberapa istilah yag digunakan dalam penelitian;
3. Pedekatan Penelitian Kuantitatif;
4. Jenis-jenis Penelitian Kuantitatif.
C. Tujuan Pembahasan
Adapun yang menjadi tujuan penulis dalam
penyelesaian makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat memberikan pemahaman terhadap penelitian khusunya kuantitatif baik
dalam pengempulan data atapun sebagai metode pembelajaran yang bersifat
penilitian;
2. Memahami apa saja dan bagaimaa prisip dalam penelitian ilmu pengetahuan;
3. Memahami metode dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian kuantitatif;
4. Diharapkan dari pembahasan makalah ini dapat memilih dan menggnakan jenis
penelitian yang tepat dalam melakkan penilitian kuantitatif atau bersifat data
nantinya.
D. Fokus Pembahasan
Setelah makalah ini dapat terselesaikan
nentinya diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa atau peneliti dalam melekukan
suatu penelitian yang bergna bagi banyak orang, dan dapat menjadi salah satu
koleksi dalam perpstakaan kampus.
BAB II
PENELITIAN KUANTITATIF
A. Prinsip-Prinsip Penelitian
1. Hakikat Ilmu Pengetahuan
Sebelum memahami tentang penelitian kuantitatif, ada baiknya untuk memahami
terlebih dahulu apa itu ilmu pengetahan. Sekilas tentang pengetahan adalah
sesatu ilmu yang mudah diketahui dan ada dalam ingatan, kemampuan, bakat dari
seseorang.
Secara sederhana pengetahuan adalah segala sesuatu yang ada di kepala kita
(dalam ingatan).[4]
Jadi pengetahuan seseorang tentang apa dan bagaimana sebuah makanan dapat
disajikan ialah dengan memasaknya, dan bagaimana seseorang dapat melakukan
berjalan dengan kaki adalah pengatahuan, namun pengetahan yang kita lihat
dengan mata dan dapat dirasakan oleh anggota tbuh kita ada hal nya sebagai
perasaan dan angan-angan saja atau sesuatu itu membutuhkan pembktia secara ilmiah.
2. Istilah yang digunakan dalam Penelitian
Secara umum, jenis
penelitian berdasarkan pendekatan analisisnya dibedakan menjadi dua, yaitu
kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan ini lazim juga disebut sebagai
pendekatan, ancangan, rencana atau desain. Rancangan atau desain penelitian dalam arti sempit
dimaknai sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis penelitian. Dalam arti
luas rancangan penelitian meliputi proses perencanaan dan pelaksanaan
penlitian.[5] Dalam
rancangan perencaan dimulai dengan megadakan observasi dan evaluasi terhadap penelitian yang sudah dikerjakan dan diketahui,
sampai pada penetapan kerangka konsep dan hipotesis penelitian yang perlu
pembuktian lebih lanjut.
Rancangan pelaksanaan penelitian meliputi prose
membuat percobaan ataupun
pengamatan serta memilih pengukuran variable, prosedur dan teknik
sampling, instrument, pengumpulan data, analisis data yang terkumpul,
dan pelaporan hasil penelitian.
B. Pendekatan Penelitian Kuantitatif
Pendekatan kuantitatif dinamakan positivist,
sedangkan pendekatan kalitatif dinamakan interpretif.[6] Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah
yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena sertahubungan-hubungannya. Tujuan
penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan
dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian
yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan
yang fundamental antarapengamatan empiris dan ekspresi
matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif.[7]
Penelitian
kuantitatif banyak dipergunakan baik dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, dari fisika danbiologi hingga sosiologi dan jurnalisme. Pendekatan
ini juga digunakan sebagai cara untuk meneliti berbagai aspek dari pendidikan. Rancangan
pelaksanaan penelitian meliputi proses membuat prcobaan ataupun pengamatan
serta memilih pengukuran variable, prosedur dan teknik sampling, instrument,
pengumpulan data, analisis data yang terkumpul, dan pelaporan hasil penelitian. Metode
penelitian lebih dekat dengan teknik. Misalnya, penelitian dengan pendekatan
kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Dengan kata lain, metode
deskriptif tersebut dapat dikatakan juga sebagai teknik deskriptif.[8]
1. Asumsi dasar Pendekatan Kuantitatif
Setiap pendekatan memiliki asumsi yang
berbeda. Asumsi dasar yang ada di dalam pendekatan kuantitatif bertolak
belakang dengan asumsi dasar yang dikembangkan didalam pendekatan kualitatif.
Asumsi dasar ilmiah yang mempengaruhi
pada perbedaan dari cara pandang peneliti terhadap sebuah fenomena dan jga
proses pe elitian secara keseluruhan.[9] Nantinya dalam pembahasan ini akan membahas
empat asumsi yang dasar yang ada dalam ilmu sosial.
Kondisi yang memungkinkan adalah dalam
satu penelitian hanya menggunakan satu
pendekatan, baik pendekatan kuantitatif atapun pendekatan kalitatif. Amun dalam
penelitian yang sama , kita bisa menerapkan kedua metode yang ada, yaitu metode
kualitatif dan metode kuantitatifdan akhirnya dapat menghasilkan data
kuantitatif dan data kalintatif.
a. Asumsi dasar ontologi (hakikat dasar gejala sosial)
Gejala sosial dikatakan sebagai sesuatu gejala yang real, yang dapat
dingkap dengan menggnakan indra manusia. Karena gejala adalah real bisa terjadi
kesepakatan di antara individu-individ yangada disekitarnya dan sesuatu gejala
tersebut menjadi sebuah fenomena yang sifatnya universal dan diakui oleh banyak
orang.
b. Asumsi dasar epistemologi (hakikat
dasar ilm pengetahan)
Suatu gejala mepunyai sifat yang nyata karena gejala yang ada bisa
dipelajari. Gejala yang ada dapat ditanggap dengan indra, dengan demikian dapat
membat perbedaan yang sat dengn yang lainnya.
Epistemologi mencakup dua hal, yaitu sebagai berikt[10]:
1) Keterkaitan antara ilmu dengan nilai, individ adalah seseorang yang bebas nilai,
bebas nilai dapat diartikan bahwa individu tidak dipengarhi oleh nilai-nilai
yang ada diantara orang-orang yang sedang diteliti.
2) Keterkaitan antara ilmu dengan akal
sehat, segala sesuat yang diperoleh dengan menggnakan cara ilmiah atau yang
dikenal sebagai ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang lebih baik dibandingkan
dengan akal sehat belaka.
3) Metodologi. , logika pemikiran ilmiah yang mecakup proses pembentkan ide dan gagasan
diberlakukan secara ketat dengan memakai prinsip nomotetik dan menggunakan pola
dedktif.
c. Hakikat dasar manusia
Dengan adanya pola yang bersifat universal, pada gilirannya manusia
sesngghnya diatur dan dipengaruhi oleh lingkungannya.
d. Aksiologi (tjuan dilakukannya sebuah penelitian)
Tujuan dilakkannya sebuah penelitian adalah dalam paya untuk menemukan hkm
niversal dan mencoba menjelaskan mengapa suatu gejala atau fenomena terjadi,
dengan mengaitkan antara gejala atau fenomena yang sat dengan gejala ata
fenomena yang lain.
C. Jenis-Jenis Metode Penelitian Kuantitatif
Metode deskripsi adalah suatu metode dalam penelitian status kelompok manusia, suatu objek,
suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa
sekarang. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena
tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti
mengadakan klasifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan
menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli
meamakan metode ini dengan nama survei normatif (normatif survei). Dengan
metode ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan memilih
hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain. Karenanya mentode ini juga
dinamakan studi kasus (status study).
Metode deskriptif juga
ingin mempelajari norma-norma atau standar-standar sehingga penelitian ini
disebut juga survei normatif. Dalam metode ini juga dapat diteliti masalah
normatif bersama-sama dengan masalah status dan sekaligus membuat
perbandingan-perbandingan antarfenomena. Studi demikian dinamakan secara umum
sebagai studi atau penelitian deskritif. Perspektif waktu yang dijangkau,
adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih
terjangkau dalam ingatan responden. Adapn ciri-cirinya
adalah:
a.
Untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini
berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka.(secara harafiah)
b.
Mencakup penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan
eksperimental.
c.
Secara umum dinamakan metode survei.
d.
Kerja peneliti bukan saja memberi gambaran terhadap fenomena-fenomena,
tetapi :
1)
menerangkan hubungan,
2)
menguji hipotesis-hipotesis
3)
membuat prediksi, mendapatkan makna, dan
4)
implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan
5)
Mengumpulkan data dengan teknik wawancara dan menggunakan schedule
qestionair/interview guide.
Ditinjau dari segi masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan
dalam meneliti, serta tempat dan waktu, penelitian ini dapat dibagi atas
beberapa jenis, yaitu:
a.
Metode survei,
b.
Metode deskriptif berkesinambungan (continuity descriptive),
c.
Penelitian studi kasus
d.
Penelitian analisis pekerjaan dan aktivitas,
e.
Penelitian tindakan (action research),
2. Penelitian Historis (Historical
Researc)
Tujuan penelitian
histories adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan
secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi,
memferivikasi, serta mensistensiskan bukti-bukti untukmenegakkan fakta dan
memperoleh kesimpulan yang kuat. Seringkali penelitian yang demikian itu
berkaitan dengan hipotesis-hipotesis tertentu.
Contoh penelitian
histories adalah studi mengenai praktek “bawon” di daerah pedesaaan di Jawa
Tengah, yang dimaksud memahami dasar-dasarnya diwaktu yang lampau serta
relevansinya untuk waktu kini; studi ini dimaksudkan juga untuk mentest
hipotesis bahwa nilai-nilai social tertentu serta rasa solidaritas memainkan
peranan penting dalam berbagai kegiatan ekonomi pedesaan. Ciri yang
menonjol dari penelitian histories adalah;
a. Penelitian
histories lebih bergatung pada data yang diobservasi orang lain dari pada yang
diobsevasi oleh peneliti sendiri. Data yang baik akan dihasilkan oleh kerja
yang cermat yag menganalisis keotentikan, ketepatan, dan peningnya
sumber-sumbernya.
b. Berlainan
dengan anggapan yang popular, penelitian haruslah tertib ketat, sistematis, dan
tutas; seringakali penlitian yang dikatakan sebagai suatu penelitiaan histories
hanyalah koleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reliable, dan berat
sebelah.
c. Penelitian
histories tergantung kapada dua macam data, yaitu primer dan datasekunder. Data
primer dipoleh dari sumberprimer, yaitu si peneliti (peneliti) secara langsung
meakukan observasi atau menyaksikan kejadian-kejadian yang dituliskan. Dan data
sekunder diperoleh dan sumber skunder, yaitu peneliti melaporkan hasil obsevasi
orang lain yang satu kali atau lebih telah lepas dari kejadian aslinya.
Dianatara kedua sumber itu, sumber primer dipandang sebagai memiliki otoritas
sebagai bukti tangan pertama, dan diberi prioritas dalam pengumpulan data.
d. Untuk
menentukan bobot data, biasa dilakukan dua macam kritik, yaitu kritik eksternal
dan kritik internal. Kritik eksternal menanyakan dokumen relic itu otentik,
sedang kritik internal menanyakan apabila data itu otentik, apabila data
otentik, apabila data tersebut akurat dan relevan. Kritik internal harus
menguji motif, keberat sebelahan, dan keterbatasan si penulis yang mngkin
melebih-lebihkan atau mengabaikan sesuatu da memberikan informasi yang
terpalsu. Evaluasi kritis inilah yang menyebbkan penelitian histories itu
sangat tertib-ketat, yang dalam bayak hal lebih disbanding dari pada studi
eksperimental.
e. Walaupun
penelitian histories mirip dengan penelaahan kepustakaan yang mendahului
lain-lain bentuk rancangan penelitian, namun cara pendekatan histories adalah
tuntas, mencari informasi dan sumber yang lebih luas. Penelitian histories jga
menggaliinformasi-informasi yang lebih tua dari pada yang umum dituntut dalam
penelaahan kepustakaan, dan banyak juga menggali bahan-bahan tak diterbitkan
yang tak dikutip dalam bahan acuan yang standar.
Penelitian dengan rancangan ex post facto
sering disebut dengan after the fact. Artinya, penelitian yang
dilakukan setelah suatu kejadian itu terjadi. Disebut juga sebagai restropective
study karena penelitian ini merupakan penelitian penelusuran kembali
terhadap suatu peristiwa atau suatu kejadian dan kemudian merunut ke
belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian
tersebut.Dalam pengertian yang lebih khusus, (Furchan, 383:2002) menguraikan
bahwa penelitian ex post facto adalah penelitian yang dilakukan sesudah
perbedaan-perbedaan dalam variable bebas terjadi karena perkembangan suatu
kejadian secara alami.
Penelitian ex post facto merupakan penelitian
yang variabel-variabel bebasnya telah terjadi perlakuan atau treatment tidak
dilakukan pada saat penelitian berlangsung, sehingga penelitian ini biasanya
dipisahkan dengan penelitian eksperimen. Peneliti ingin melacak kembali, jika
dimungkinkan, apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya sesuatu.
a.
Perbandingan Antara Ex post Facto dengan
Eksperimen
Dalam beberapa hal, penelitian ex post facto
dapat dianggap sebagai kebalikan dari penelitian eksperimen. Sebagai pengganti dari pengambilan dua kelompok yang sama kemudian diberi
perlakuan yang berbeda. Studi ex post facto dimulai dengan dua kelompok yang
berbeda kemudian menetapkan sebab-sebab dari perbedaan tersebut. Studi ex post
facto dimulai dengan melukiskan keadaan sekarang, yang dianggap sebagai akibat
dari faktor yang terjadi sebelumnya, kemudian mencoba menyelidiki ke belakang
guna menetapkan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebabnya.
Penelitian ex post
facto memiliki persamaan dengan penelitian eksperimen. Logika dasar pendekatan
dalam ex post facto sama dengan penelitian eksperimen, yaitu adanya variabel x
dan y. Kedua metode penelitian tersebut membandingkan dua kelompok yang sama
pada kondisi dan situasi tertentu. Perhatiannya dipusatkan untuk mencari atau
menetapkan hubungan yang ada di antara variabel-variabel dalam data penelitian.
Dengan demikian, banyak jenis informasi yang diberikan oleh eksperimen dapat
juga diperoleh melalui analisis ex post facto.
Dalam penelitian
eksperimen, pengaruh variabel luar dikendalikan dengan kondisi eksperimental.
Variabel bebas yang dianggap sebagai penyebab dimanipulasi secara langsung
untuk meminimalkan pengaruh terhadap variabel terikat. Melalui eksperimen,
peneliti dapat memperoleh bukti tentang hubungan kausal atau hubungan
fungsional di antara variabel yang jauh lebih menyakinkan daripada yang dapat
diperoleh menggunakan studi ex post facto.
Contoh perbedaan
antara penelitian ex post facto dengan eksperimen adalah sebagai berikut.
Sebuah penelitian berjudulPengaruh Kecemasan Siswa pada Waktu Mengerjakan
Ujian Terhadap Hasil Ujian Mereka dapat didekati dengan dua metode,
yaitu eksperimen dan eks post facto.
b.
Pendekatan Eksperimen
Dalam judul di atas
terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam judul di atas adalah kecemasan siswa dan ujian
nasional. Variabel terikatnya adalah hasil ujian. Ciri dari penelitian eksperimen adalah adanya manipulasi terhadap
variabel bebas. Dari kondisi di atas, variabel bebas dapat dimanipulasi menjadi
cemas dan tidak cemas. Konkritnya, sebuah kelas terdiri dari kelas A dan B.
Masing-masing kelas dimanipulasi kondisinya menjadi kelas A menjadi kelas yang
cemas, sementara kelas B menjadi kelas yang netral (pengendali).
c.
Pendekatan Ex post Facto
Hal penting dalam
pendekatan ex post facto adalah tidak adanya manipulasi terhadap variabel.
Dalam kasus di atas, dapat didekati dengan ex post facto dengan melihat situasi
kelas A dan B yang sebelumnya tidak diadakan manipulasi. Artinya, kelas
tersebut berjalan secara alami. Misalnya, hasil ujian kelas A dan B menunjukkan
perbedaan dari satu siswa ke siswa lainnya. Dari hasil tersebut, dilakukan
klasifikasi antara siswa yang memiliki nilai tinggi dengan siswa yang memiliki
nilai rendah. Kemudian dihubungkan antara kecemasan dengan hasil nilai.
Misalnya ditemukan kesimpulan bahwa nilai di atas rata-rata dikerjakan oleh
siswa yang memiliki kecemasan. Oleh karena itu, pengaruh kecemasan siswa memang
berpengaruh terhadap hasil ujian, yaitu menjadi lebih baik.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Metode penelitian kuantitatif merupakan penelitian
ilmiah dengan konsep yang sangat real. Dan menggnaka metode yang berbeda dengan
penelitian kalitatif, penelitian kantitatif menggnakan penelitian yang sistematis
dan analisis, penh konsep dan sample.
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Prasetyo dan Lina miftahl Jannah, metode
penelitian kuantitatif, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008.
Emzir, metodologi Penelitian Pendidikan
Kantitatif dan Kalitatif, Jakarta : Rajawali Pers,2010.
Maulana Akbar, Penelitian Kantitatif. http://maulana-ikbar.blogspot.com/2012/05/makalah-penelitian-kuantitatif.html pada Jumat
12 Sepetember 2014.
Lubis
Grafra,http://lubisgrafura.wordpress.com/metode-penelitian-kuantitatif/ jumat, 12 september 2014
[1] Emzir, metodologi Penelitian Pendidikan Kantitatif
dan Kalitatif ( Jakarta : Rajawali Pers,2010), Hlm. 3.
[2]Maulana Akbar, Penelitian Kantitatif. http://maulana-ikbar.blogspot.com/2012/05/makalah-penelitian-kuantitatif.html pada Jumat 12
Sepetember 2014.
[3] Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan Kantitatif
dan Kalitatif ., hlm: 3.
[4] Bambang Prasetyo
dan Lina miftahl Jannah, metode penelitian kuantitatif,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008) hlm:3
[5] Lubis Grafra,http://lubisgrafura.wordpress.com/metode-penelitian-kuantitatif/ jumat, 12 september 2014
[6] Bambang Prasetyo dan Lina miftahl Jannah, metode
penelitian kuantitatif, hlm: 24.
[8] Maulana Akbar, Penelitian Kantitatif. http://maulana-ikbar.blogspot.com/2012/05/makalah-penelitian-kuantitatif.html pada Jumat 12
Sepetember 2014.
Komentar
Posting Komentar