kedudukan belajar mengajar dalam tafsir
By: summa theAlMa
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al Qur’an sebagai sesuatu yang
benar bagi setiap orang muslim adalah sesuatu yang mutlak, tanpa tawar, harga
mati dan tidak ada keraguan. Dengan demikian
kebenaran Al Qur’an tidak perlu diuji. Karena kebenaran Al Qur’an tidak
perlu diuji maka sikap setiap muslim terhadap Al Qur’an adalah beriman
kepadanya. Iman berbeda dari percaya. Kepercayaan tidak meniscayakan
konsekuensi eskatilogis seperti dosa, siksa kubur, atau siksa neraka yang
sejenisnya, iman mengandung hal itu. Oran tidak beriman sesuai ajaran Al Qur’an
akan mendapatkan siksa kubur maupun siksa Akhirat. Di dunia orang yang tidak
beriman dikategorikan kafir (ateis) atau sejenisnya.[1]
Maka dari itu dalam memahami Al
Qur’an seorang muslim hendaknya melalui jalan dengan belajar. Dalam arti
belajar adalah tidak hanya dengan apa yang ditulis, di dengar, dan dilihat dari
satu pembahasan saja namun semua bidang, dengan di awali belajar membaca,
sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam Al Qur’an surat Al Alaq yang
akan dibahas dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Melihat latar belakang dari
makalah ini, kami sebagai penulis merumskan masalah yang hendakny akan dibahas
yaitu:
1. Pengertian Belajar mengajar dalam pendidikan;
2. Al Qur’an membahas tentang kedudukan belajar mengajar
dalam surat Al Alaq ayat 1-5:
3. Al Qur’an menjelaskan tentang kedudukan belajar mengajar
dalam surat At – Taubah ayat 122;
4. Al Qur’an menjelaskan tentang kedudukan belajar mengajar
dalam surat Al Mujadilah ayat 11.
C. Tujuan Pembahasan
Setelah merangkum beberapa
rumusan masalah, penulis memiliki tujuan yang pertama adalah bagi kami psebagai
penulis, dimana memahami tentang Al Qur’an sebagai pedoman dalam pemahaman pendiidkan, melihat
begitu banyak ayat yang menjelaskan tentang arti pendidikan yaitu memlalui
proses belajar dan mengajar. Kami sebagai penulis telah mencoba memberikan
pemahaman dimana untuk mencapai pendidikan yaitu melalui proses yang disebut
belajar, dan ada proses menhajar. Baik pengajaran dari buku atau pun dari kehidupan
yang terjadi dnegan begitu adanya, serta tujuan
selanjutnya adalah untuk menambah koleksi dalam perpustakan sebagai
bahan bacaan bagi pembaca sekalian dengan pelampirkan penjelasan beberapa
relefansi kehidupan.
D. Fokus Pembahasan
Dalam terselesaikannya makalah
kami ini, kami pun tek lupa untuk memfokuslkan pembahasannya dalam kajian belajar dan mengajar yang dijelaskan
dalam Al Qur’an yaitu pendidikan untuk pegangan kami sebagai kaum intelektual,
dan kami sebagai penerus menjalankan jiwa pendidik. Hendaknya kami terbuka untuk dapat segera mengamalkannya.
BAB II
KEDUDUKAN BELAJAR MENGAJAR
YANG TELAH DIJELASKAN AL QUR’AN
DALAM SURAT AL ALAQ AYAT 1-5, SURAT AT – TAUBAH AYAT 122 DAN SURAT AL –
MUJADILAH AYAT 11
A. Pengertian Belajar Mengajar
dalam Pendidikan
Belajar merupakan suatu proses
perubahan yaitu perubahan perilaku atau tingkah laku sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkunganny adalam memenuhi kebutuhan hidupnya.[2]sedangkan
untuk mengajar, masih belum ada kesatuan yang disepakati dalam mendefinisikan
dari menajar. Hal ini dikarenakan banyaknya teori-teori mengajar. Salah satu
pengertiannya menurut teori lama, mengajar ialah penyerahan kebudayaan berupa
pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada anak didik atau usaha mewariskan kebudayaan msyarakat
pada generasi berikut sebagai generasi penerus.[3]
Namun definisi dari Ghazaali
tentang mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara
paling singkat dan tepat. Maksudnya adalah guru dalam mengajar seharusnya
memperhatikan bahwwasannya setiap
individu memiliki perbedaan individual, sehingga memerlukan pelayanan
yang berbeda-beda.[4]
Ada penyebab orang muslim islam
mengahrgai seorang guru, yaitu pandangan
bahwa ilmu atau pengetahuan itu semua bersumber dari Allah SWT. ilmu datang
dari Allah, guru pertama adalah Allah SWT.[5]
Dari pengertian belajar dan
mengajar diatas dapat disimpulkan bahwa kedudukan yang peling penting dalam
pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang terus dikembangkan dalam belajar dan
seorang pendidik guru yang mengajar dengan pemahaman yang berdasarkan kebutuhan
peserta didik. Dan tetap menarapkan bahwa pendidikan yang Islami adlah
berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah.
B. Al Qur’an Membahas Tentang
Kedudukan Belajar Mengajar Dalam Surat Al Alaq Ayat 1-5
Sebagaimana yang telah dibahas
dalam halaman sebelumnya, Al Qur’an telah menjelaskan tentnag pengetahuan dalam
kedudukan belajar dan mengajar. Salah satunya Allah ta’ala berfirman di dalam Al Qur`an surat Al ‘Alaq
ayat 1 sampai 5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu adalah Maha Pemurah. Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran qalam (alat tulis)
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(Q.S. AL ‘Alaq
: 1-5)[6]
1. Asbabun Nuzul Surat Al Alaq
Dalam hadits riwayat Bukhari di
nyatakan bahwa Nabi SAW. datang ke gua Hira suatu gua yang terletak di atas
sebuah bukit di penhggir kota Mekkah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian
sekembalinya Beliau pulang mengambil bekal dari rumah istri beliau, Khadijah,
datanglah Jibril kepada beliau dan menyuruhnya membaca. Nabi menjawab” aku
tidak bisa membaca”. Lalu dirangkulnya sehinhha Nabi merasa sesak nafas. Jibril
melepaskannya sambil berkata “bacalah” .Nabi menjawab “aku tidak bisa membaca”
sehingga Nabi merasa payah. Maka Jibril membacakan surat Al Alaq dari 1-5. Lalu
Nbi SAW dengan gemetar dan ketakutan pulang menemui istri beliau dan mengatakan
“selimutilah Aku! Selimutilah aku”[7]
Surat Al Alaq terdiri dari 19
ayat, termasuk sura makiyyah, ayat 1 sampai 5 dari surat ini adalah ayat-ayat
al Qur’an yang pertama diturunkan yaitu diwaku Nabi SAW berada di gua Hira’.
Pokok –pokok isinya adalah tentang perintah membaca al Qur’an. Manusia
dijadikan dari segumpal darah. Allah menjadikan kalam sebagai alat
mengembangkan pengetahuan. Manuisa bertindak melampai batas karena dirinya
serba cukup. Ancaman Allah terhadap orang-orang kafir yang menghalang-halangi
kaum muslimin melakukan perintah-Nya.[8]
2. Penjelasan Surat Al ‘Alaq Ayat 1 Sampai 5 Tentang
Kedudukan Belajar Dan Mengajar
Imam Ahmad mengatakan, telah
menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar,
dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah yang menceritakan bahwa permulaan wahyu
yang disampaikan kepada Rasulullah Saw., berupa mimpi yang benar dalam
tidurnya. Dan beliau tidak sekali-kali melihat suatu mimpi melainkan datangnya
mimpi itu bagaukan sinar dipagi hari.[9]
Allah menyuruh Nabi agar
membaca sedang beliau tiak pandai mebaca dan menulis, maka dengan kekuasaan
Allah ini beliau dpat mengikuti ucapan Jibril. Dan Allah akan menurunkan
kepadanya suatu kitab yang akan menjadi petunjuk bagi manusia. Maksudnya bahwa
Allah yang menjadikan dan menciptakan sekuruh makhluk –Nya dari tidak ada
menjadi ada, sanggup menjadikan Nabi-Nya pandai membaca tanpa belajar.[10]
Jelaslah pemahaman dalam
ayat Al Qur’an surat Al ‘Alaq ini bahwa
kedudukan pengetahuan itu terletak pada belajar dan mengajar sebagaimana, Allah
telah mengajarkan dan melakukan proses perubahan kepada Nabi SAW., dengan
memberikan kitab yang akan menjadi petunjuk bagi umat manusia. Yang mengajarkan
dari yang tidak ada menjadi ada dan yang tidak tau menjadi pandai. Allah adalah
sosok utama dalam mengajar ilmu pengetahua.
Kemudian dengan ayat ini Allah
menerangkan bahwa Dia menyediakan kalam sebagai alat untukmenulis, sehingga
tulisan itu menjadi penghubung antar manusia, walaupun mereka berjauhan tempat,
sebagaimana mereka berhubungan dengan perantara lisan.[11]
Allah telah mencontohkan kepada
manusia dalam mengajar. Yaitu melalui kalam Allah manusia dapat melakukan suatu
komunikasi dengan manusia yang lain dengan pemahaman yang satu. Itulah peran
seorang pendidik dalam mengajar hendaknya menjadi fasilitator dari peserta
didik. Jadi dapat disimpulkan dalam surat Al ‘Alaq ayat satu saapai lima yaitu:
a) Baca dengan menyebut nama Allah yang menciptakan
makhluk-Nya;
b) Manusia telah diciptakan Allah dari segumpal darah;
c) Dengan membaca dan Allah yang Maha Pemurah;
d) Allah yang mengajar Manusia dengan perantara Kalam-Nya;
e) Allah mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak di ketahuinya, yaitu belajar membaca dan menulis
serta ilmu pengetahuan.
Dengan ayat-ayat ini terbuktilah
tentang tingginya niai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Andaikan tidak
ada kalam niscaya banyak ilmu pengetahuan yang tidak akan terpelihara dengan
baik banyak penelitian yang tidak tercatat dan banyak ajaran agama yang hilang,
pengetahuan orang dahulu kala tidak dapat dikenal oleh orang-oang sekarang baik
ilmu, seni dan ciptaan-ciptaaan mereka.[12]
C. Al Qur’an Menjelaskan Tentang
Kedudukan Belajar Mengajar Dalam Surat At – Taubah Ayat 122
َمَا كَانَ
ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ ڪَآفَّةً۬ۚ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةٍ۬
مِّنۡہُمۡ طَآٮِٕفَةٌ۬ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوۡمَهُمۡ
إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡہِمۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُونَ
Artinya: “ tidak sepatutnya bagi orang-oang yang
mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap
golongan di antara mereka bebrapa orang untuk memeproleh pengetahuan mereka
tentang agana dan untuk memberi peringtan kepada kaumnya apabila mereka telah
kembai kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri.(Q.S. At Taubah:
122)[13]
1. Asbabun Nuzul surat At – Taubah
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan
dari Ikrimah bahwa ketika turun ayat
padahal pada waktu itu sejumlah orang tidak ikut pergi perang karena
sedang berada di padang pasir untuk mengajar agama kepada kaum mereka maka
orang-orang munafik mengatakan, “ada beberapa orang di padang pasir itu. Maka
turunlah ayat ini “dan tiak sepaputnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi ke
medan perang..., ia meriwayatkan dari Abdullah bin Ubaid bin Umar, katanya
“karena amat bersemangat untuk berjihad, apabila Rasulullah mengirim suatu regu
pasukan, kaum muslimin biasanya ikut bergabung kedalamnya dan mneinggalkan Nabi
saw., di Madinah bersama sejumlah warga kecil. Maka turunlah ayat ini.[14]
2. Penjelasan surat At Taubah ayat 122
Menurut Al Maraghi ayat
tersebut memberi isyarat tentang kewajiban memperdalam ilmu agama ( wujub
al-tafaqqah fi al-din) serta menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan
untuk mempelajaari ny adi dalam suatu negeri yang telah didirikan serta
mengajarkannya kepada manusia berdasarkan kabar yang diperkirakan dapat
memberikan kemaslahatan bagi mereka sehingga tidak membiarkan meraka tidak
mengatehui hukum-hukum agama yang pada
umunya harus diketahui oleh orang-orang yang beriman. Dan tidak kalah derajatny
adengan orang-oarang yang berjihad dijalan Allah , bahkan uapay tersebut
kedudukannya lebih tinggi dan mereka yang keadaanya tidak sedang berhadapan
dengan musuh.[15]
Sedangkan Ibnu kasir
menjelaskan dalam bukunya Ali ibnu Abu Talhah telah meiwayatkan dari Ibnu Abbas
sehubungan dengan firman-Nya : مَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ
لِيَنفِرُواْ ڪَآفَّةً۬ۚ “tidak sepatutnya bagi ornag-orang yang mukmin itu pergi
semuanya(ke medan Perang).(At Taubah:122)
Yakni tidaklah sepatutnya orang-orang mukmin berangkat
semuanya ke meda perang dan meninggalkan Nabi Saw. sendirian.[16]
Dalam penjelasan diatas dapat
disimpulakn kembali adlah tentang kedudukan belajar denga berjihad menegakkan
di jalan Allah adalah sama, bahkan lebih tinggi deajatnya orang-orang yang
belajar menuntut ilmu. Dimana dalam ayat tesebut juga di sebutkan untuk
memberikan pengetahuan kepada yang tidak mengikuti belajar atau yang telah
kembali dari peperangan, secara garis besar yat ini telah menjelaskan tentang
pentingnya mengajar.
Dalam penjelasan ayat di atas
yaitu berkewajiban mendalami ilmu agama dan kesepiannya untuk mengajarkannya. Mendalami
ilmu-ilmu hukum yang menjadi kebiasaan dalam kehidupan. Firman Allah Sawt dalamsurat Ali Imran ayat 104:
وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ
أُمَّةٌ۬ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ
عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
Artinya : dan hendaklah ada diantara kamu segolongan
umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf[17]
dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang – orang yang berntung. (Q.S.
Ali ‘Imran: 104)[18]
Maksud dari ayat diatas adalah sebaiknya ada beberapa
segolongan yang bertugas menegakkan dakwah, melaksananakan kebaikkan dan
mencegah yang munkar.
D. Al Qur’an Menjelaskan Tentang
Kedudukan Belajar Mengajar Dalam Surat Al Mujadilah Ayat 11
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ
اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ
آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا
تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: hai orang –orang
yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “berlapang-lapanglah dalm majelis”.
Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapnagan bagimu. Dan apabila
dikatakan:”berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggalkan
orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha Mengetahui apa yan kamu kerjakan. (Q.S.
Al Mujadalah : 11)[19]
1. Asbabul Nuzul Surat al Mujadalah ayat 11
Berkenaan dengan turunnya ayat tersebut
dapat dilihat keterangan yang diberikan oleh Ibn Abu Khatim menurut riwayatnya
yang diterima dari Muqatil bin Hibban, bahwa pada suatu ketika dihari Jum’at Rasulullah
berada disuatu tempat yang sempit, saat mana ia tengah menerima tamu dari
penduudk Badar ari kalangan Muhajirin dan Anshar, tiba-tiba sekelompok seorang
yang didalamnya termasuk Tsabit bi Qais datang an ingin duudk di bagian depan
tempat tersebut.merekaberdiri memuliakan Rasulullah, dan mengucapakan salam.
Nabi menjawab salam meraka, dan kelompok tersebut menjawab sekompok ynag lain.
Namun orang yang datang terdahulu tetap tidak memberikan peluang. Kejadian ini
membuat Rasulullah bertindak inisiatif dan berkata kepada mereka dan sekitarny
a berdirilah,berdirilah,berdirilah kalian. Rasulullah tampak menunjukkan
kekecewaan di ahadapan mereka. Dalam keadaan demikianlah ayat ini diturunkan.
2. Penjelasan Surat Al Mujadalah Tentang Kedudukan Belajar
Dan Mengajar
Dalam kalimat ayat taffasahu
maksudny aadlah tawassa’u yaitu saling meluaskan dan memeprsilahkan. Sedangkan
kata yafsabillahillahu lakum maksudnya Allah akan melapangkan
rahmat dan rizki bagi mereka.[20] Di dalam sebuah atsar disebutkan:
قيدوا العلم بالكتابة
“Ikatlah ilmu itu dengan tulisan.”[21]
Dalam penjelasan lain bahwa
Allah akan mengangkat orang –orang mukmin yang melaksanankan segala perintahnya
dan perintah Rasul-Nya dengan memberi keduudukan yang khusus, bak dari segi
pahala maupun keridhaan –Nya.[22]
Dengan mempelajari ilmu pengetahuan tidak hanya menulis dn membaca, kehidupan
ini pun telah siap mengajar seseorang
untuk memehami pengetahuan, dalam pendidikan dan sosial misalnya, seseorang
akan belajar memahami hidup ini dengan menyesuaikan dengan masyarakat dan
lingkungan. Maka dia akan mendapat kan tempat dalam masyatakat. Begitu juga
bila seseorang tidak mau belajar dan hanya berdiam diri maka kehidupabn tidak
akan memberikan pengajaran pada nya.
Dalam sebuah perkumpulan
majelis, bila kit aberlapang dada merelakan tempat kita kepada orang lain.
Allah akan memberikan Rahmat dan Rizki, semestera dalam kehidpan maka kita akan
mendpaat tempat dan bisa memberikan pengajaran dalam mengajar secara terbuka.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yan
dapat kami tuliskan dalam bab penutup ini yaitu belajar dan mengajar dalam
pendidikan sudah snagat jelas di tuangkan dalam Al Qur’an. Namun sangat di
sayangkan kejelasn yang ada disni masih belum dapat dipahami dengan menyeluruh.
Seorang yang akan mengajar di tuntut untuk dapat memberikan pemahaman sesuai
dengan kapasitas orang persta didik, jadi dalam mengajar harus ada alat untuk
mencapai pendidikan.
B. Saran
Sedikit penulis memberikan
Saran untuk kita semua, bahwasannya pendiidkan memang snagatlah penting apa
lagi dengan tujuan untuk meningkatan keimanan dan moral seseorang. Jadi kita
adalah seorang pendidik yang akan mengajar dan selalu belajar. Marilah kit
atingkatkan kualitas mengajar yang telah di jelaskan dalam Al Qur’andan menambah
pengatehuan dengan membaca dan mencari buku-buku atau sumber-sumber yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad
Mustafa. Tafsir Al–Maraghi (terjemah Juz XV. Semarang.Toha Putra.
1993.
Al
Hakim (1/106) dari Umar bin Khaththab dan Anas bin Malik secara mauquf. Atsar
ini shahih
Al Quran dan
Terjemahannya.muqadimah.Jakarta.percetakan
Raja Fadh.1971.
Dariyanto. Belajar
dan mengajar. Bandung. CV. YRAMA WIDYA. 2010.
Jalaluddin. As
Auyuthi. Sebab turunya Ayat Al
Qur’an. Jakarta. Gema Insani Press. 2008.
Nata. Abuddin. Tafsir
ayat-ayat pendidikan. Jakarta.
Raja Grafindo Persada. 2010.
Tafsir.Ahmad Ilmu
pendidikan dan Dalam Perspektif Islam. Bandung. Rosda. 2008.
Tafsir Ibnu
Kasir, juz XXX. Bandung. Sinar Baru
Algesindo. Cet ke-3 2007.
Tafsir ibnu Kasir. Juz XXVIII. Bandung. Sinar
Baru Algasindo. 2010.
[1] Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al–Maraghi
(terjemah Juz XV.( Semarang.Toha Putra. 1993). hal: 77.
[7]Jalaluddin As Auyuthi. Sebab turunya Ayat Al Qur’an.
(Jakarta. Gema Insani Press. 2008) hal: 308-309
[16] Tafsir ibnu
Kasir. Juz XXVIII.(Bandung.
Sinar Baru Algasindo. 2010) hal: 103
[17] Ma’ruf segala perbuatan yang
mendekatkan kit akepada Allah, sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang
menjauhkan kita dari pada-Nya. ( penjelasan ayat 104. DEPAG RI. Al Qur’an
dan Terjemahannya. ... hal:93)
[21] Riwayat Al Hakim (1/106) dari Umar bin
Khaththab dan Anas bin Malik secara mauquf. Atsar ini shahih]
Komentar
Posting Komentar