kedudukan belajar mengajar dalam tafsir

By: summa theAlMa


PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Al Qur’an sebagai sesuatu yang benar bagi setiap orang muslim adalah sesuatu yang mutlak, tanpa tawar, harga mati dan tidak ada keraguan. Dengan demikian  kebenaran Al Qur’an tidak perlu diuji. Karena kebenaran Al Qur’an tidak perlu diuji maka sikap setiap muslim terhadap Al Qur’an adalah beriman kepadanya. Iman berbeda dari percaya. Kepercayaan tidak meniscayakan konsekuensi eskatilogis seperti dosa, siksa kubur, atau siksa neraka yang sejenisnya, iman mengandung hal itu. Oran tidak beriman sesuai ajaran Al Qur’an akan mendapatkan siksa kubur maupun siksa Akhirat. Di dunia orang yang tidak beriman dikategorikan kafir (ateis) atau sejenisnya.[1]
Maka dari itu dalam memahami Al Qur’an seorang muslim hendaknya melalui jalan dengan belajar. Dalam arti belajar adalah tidak hanya dengan apa yang ditulis, di dengar, dan dilihat dari satu pembahasan saja namun semua bidang, dengan di awali belajar membaca, sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam Al Qur’an surat Al Alaq yang akan dibahas dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
Melihat latar belakang dari makalah ini, kami sebagai penulis merumskan masalah yang hendakny akan dibahas yaitu:
1.      Pengertian Belajar mengajar dalam pendidikan;
2.      Al Qur’an membahas tentang kedudukan belajar mengajar dalam surat Al Alaq ayat 1-5:
3.      Al Qur’an menjelaskan tentang kedudukan belajar mengajar dalam surat At – Taubah ayat 122;
4.      Al Qur’an menjelaskan tentang kedudukan belajar mengajar dalam surat Al Mujadilah ayat 11.

C.    Tujuan Pembahasan
Setelah merangkum beberapa rumusan masalah, penulis memiliki tujuan yang pertama adalah bagi kami psebagai penulis, dimana memahami tentang Al Qur’an sebagai  pedoman dalam pemahaman pendiidkan, melihat begitu banyak ayat yang menjelaskan tentang arti pendidikan yaitu memlalui proses belajar dan mengajar. Kami sebagai penulis telah mencoba memberikan pemahaman dimana untuk mencapai pendidikan yaitu melalui proses yang disebut belajar, dan ada proses menhajar. Baik pengajaran dari buku atau pun dari kehidupan yang terjadi dnegan begitu adanya, serta tujuan  selanjutnya adalah untuk menambah koleksi dalam perpustakan sebagai bahan bacaan bagi pembaca sekalian dengan pelampirkan penjelasan beberapa relefansi kehidupan.

D.    Fokus Pembahasan
Dalam terselesaikannya makalah kami ini, kami pun tek lupa untuk memfokuslkan pembahasannya dalam  kajian belajar dan mengajar yang dijelaskan dalam Al Qur’an yaitu pendidikan untuk pegangan kami sebagai kaum intelektual, dan kami sebagai penerus menjalankan jiwa pendidik. Hendaknya kami  terbuka untuk dapat segera mengamalkannya.















BAB II
KEDUDUKAN BELAJAR MENGAJAR
YANG TELAH DIJELASKAN  AL QUR’AN DALAM SURAT AL ALAQ AYAT 1-5, SURAT AT – TAUBAH AYAT 122 DAN SURAT AL – MUJADILAH AYAT 11

A.    Pengertian Belajar Mengajar dalam Pendidikan
Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan perilaku atau tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkunganny adalam memenuhi kebutuhan hidupnya.[2]sedangkan untuk mengajar, masih belum ada kesatuan yang disepakati dalam mendefinisikan dari menajar. Hal ini dikarenakan banyaknya teori-teori mengajar. Salah satu pengertiannya menurut teori lama, mengajar ialah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada anak didik  atau usaha mewariskan kebudayaan msyarakat pada generasi berikut sebagai generasi penerus.[3]
Namun definisi dari Ghazaali tentang mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat. Maksudnya adalah guru dalam mengajar seharusnya memperhatikan bahwwasannya setiap  individu memiliki perbedaan individual, sehingga memerlukan pelayanan yang berbeda-beda.[4] Ada penyebab orang  muslim islam mengahrgai seorang  guru, yaitu pandangan bahwa ilmu atau pengetahuan itu semua bersumber dari Allah SWT. ilmu datang dari Allah, guru pertama adalah Allah SWT.[5]
Dari pengertian belajar dan mengajar diatas dapat disimpulkan bahwa kedudukan yang peling penting dalam pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang terus dikembangkan dalam belajar dan seorang pendidik guru yang mengajar dengan pemahaman yang berdasarkan kebutuhan peserta didik. Dan tetap menarapkan bahwa pendidikan yang Islami adlah berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah.

B.     Al Qur’an Membahas Tentang Kedudukan Belajar Mengajar Dalam Surat Al Alaq Ayat 1-5
Sebagaimana yang telah dibahas dalam halaman sebelumnya, Al Qur’an telah menjelaskan tentnag pengetahuan dalam kedudukan belajar dan mengajar. Salah satunya Allah ta’ala berfirman di dalam Al Qur`an surat Al ‘Alaq ayat 1 sampai 5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ  اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ  الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
 عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu adalah Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (alat tulis)  Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(Q.S. AL ‘Alaq : 1-5)[6]

1.      Asbabun Nuzul Surat Al Alaq
Dalam hadits riwayat Bukhari di nyatakan bahwa Nabi SAW. datang ke gua Hira suatu gua yang terletak di atas sebuah bukit di penhggir kota Mekkah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian sekembalinya Beliau pulang mengambil bekal dari rumah istri beliau, Khadijah, datanglah Jibril kepada beliau dan menyuruhnya membaca. Nabi menjawab” aku tidak bisa membaca”. Lalu dirangkulnya sehinhha Nabi merasa sesak nafas. Jibril melepaskannya sambil berkata “bacalah” .Nabi menjawab “aku tidak bisa membaca” sehingga Nabi merasa payah. Maka Jibril membacakan surat Al Alaq dari 1-5. Lalu Nbi SAW dengan gemetar dan ketakutan pulang menemui istri beliau dan mengatakan “selimutilah Aku! Selimutilah aku”[7]
Surat Al Alaq terdiri dari 19 ayat, termasuk sura makiyyah, ayat 1 sampai 5 dari surat ini adalah ayat-ayat al Qur’an yang pertama diturunkan yaitu diwaku Nabi SAW berada di gua Hira’. Pokok –pokok isinya adalah tentang perintah membaca al Qur’an. Manusia dijadikan dari segumpal darah. Allah menjadikan kalam sebagai alat mengembangkan pengetahuan. Manuisa bertindak melampai batas karena dirinya serba cukup. Ancaman Allah terhadap orang-orang kafir yang menghalang-halangi kaum muslimin melakukan perintah-Nya.[8]

2.      Penjelasan Surat Al ‘Alaq Ayat 1 Sampai 5 Tentang Kedudukan Belajar Dan Mengajar

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah yang menceritakan bahwa permulaan wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah Saw., berupa mimpi yang benar dalam tidurnya. Dan beliau tidak sekali-kali melihat suatu mimpi melainkan datangnya mimpi itu bagaukan sinar dipagi hari.[9]
Allah menyuruh Nabi agar membaca sedang beliau tiak pandai mebaca dan menulis, maka dengan kekuasaan Allah ini beliau dpat mengikuti ucapan Jibril. Dan Allah akan menurunkan kepadanya suatu kitab yang akan menjadi petunjuk bagi manusia. Maksudnya bahwa Allah yang menjadikan dan menciptakan sekuruh makhluk –Nya dari tidak ada menjadi ada, sanggup menjadikan Nabi-Nya pandai membaca tanpa belajar.[10]
Jelaslah pemahaman dalam ayat  Al Qur’an surat Al ‘Alaq ini bahwa kedudukan pengetahuan itu terletak pada belajar dan mengajar sebagaimana, Allah telah mengajarkan dan melakukan proses perubahan kepada Nabi SAW., dengan memberikan kitab yang akan menjadi petunjuk bagi umat manusia. Yang mengajarkan dari yang tidak ada menjadi ada dan yang tidak tau menjadi pandai. Allah adalah sosok utama dalam mengajar ilmu pengetahua.
Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan kalam sebagai alat untukmenulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia, walaupun mereka berjauhan tempat, sebagaimana mereka berhubungan dengan perantara lisan.[11]
Allah telah mencontohkan kepada manusia dalam mengajar. Yaitu melalui kalam Allah manusia dapat melakukan suatu komunikasi dengan manusia yang lain dengan pemahaman yang satu. Itulah peran seorang pendidik dalam mengajar hendaknya menjadi fasilitator dari peserta didik. Jadi dapat disimpulkan dalam surat Al ‘Alaq ayat satu saapai lima yaitu:
a)      Baca dengan menyebut nama Allah yang menciptakan makhluk-Nya;
b)      Manusia telah diciptakan Allah dari segumpal darah;
c)      Dengan membaca dan Allah yang Maha Pemurah;
d)     Allah yang mengajar Manusia dengan perantara Kalam-Nya;
e)      Allah mengajarkan kepada  manusia apa yang tidak di ketahuinya, yaitu belajar membaca dan menulis serta ilmu pengetahuan.
Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang tingginya niai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Andaikan tidak ada kalam niscaya banyak ilmu pengetahuan yang tidak akan terpelihara dengan baik banyak penelitian yang tidak tercatat dan banyak ajaran agama yang hilang, pengetahuan orang dahulu kala tidak dapat dikenal oleh orang-oang sekarang baik ilmu, seni dan ciptaan-ciptaaan mereka.[12]

C.    Al Qur’an Menjelaskan Tentang Kedudukan Belajar Mengajar Dalam Surat At – Taubah Ayat 122

َمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ ڪَآفَّةً۬‌ۚ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةٍ۬ مِّنۡہُمۡ طَآٮِٕفَةٌ۬ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡہِمۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُونَ
Artinya: “ tidak sepatutnya bagi orang-oang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka bebrapa orang untuk memeproleh pengetahuan mereka tentang agana dan untuk memberi peringtan kepada kaumnya apabila mereka telah kembai kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri.(Q.S. At Taubah: 122)[13]
1.      Asbabun Nuzul surat At – Taubah
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ikrimah bahwa ketika turun ayat  padahal pada waktu itu sejumlah orang tidak ikut pergi perang karena sedang berada di padang pasir untuk mengajar agama kepada kaum mereka maka orang-orang munafik mengatakan, “ada beberapa orang di padang pasir itu. Maka turunlah ayat ini “dan tiak sepaputnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi ke medan perang..., ia meriwayatkan dari Abdullah bin Ubaid bin Umar, katanya “karena amat bersemangat untuk berjihad, apabila Rasulullah mengirim suatu regu pasukan, kaum muslimin biasanya ikut bergabung kedalamnya dan mneinggalkan Nabi saw., di Madinah bersama sejumlah warga kecil. Maka turunlah ayat ini.[14]

2.      Penjelasan surat At Taubah ayat 122
Menurut Al Maraghi ayat tersebut memberi isyarat tentang kewajiban memperdalam ilmu agama ( wujub al-tafaqqah fi al-din) serta menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mempelajaari ny adi dalam suatu negeri yang telah didirikan serta mengajarkannya kepada manusia berdasarkan kabar yang diperkirakan dapat memberikan kemaslahatan bagi mereka sehingga tidak membiarkan meraka tidak mengatehui hukum-hukum agama yang  pada umunya harus diketahui oleh orang-orang yang beriman. Dan tidak kalah derajatny adengan orang-oarang yang berjihad dijalan Allah , bahkan uapay tersebut kedudukannya lebih tinggi dan mereka yang keadaanya tidak sedang berhadapan dengan musuh.[15]
Sedangkan Ibnu kasir menjelaskan dalam bukunya Ali ibnu Abu Talhah telah meiwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya : مَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ ڪَآفَّةً۬‌ۚ “tidak sepatutnya bagi ornag-orang yang mukmin itu pergi semuanya(ke medan Perang).(At Taubah:122)
Yakni tidaklah sepatutnya orang-orang mukmin berangkat semuanya ke meda perang dan meninggalkan Nabi Saw. sendirian.[16]
Dalam penjelasan diatas dapat disimpulakn kembali adlah tentang kedudukan belajar denga berjihad menegakkan di jalan Allah adalah sama, bahkan lebih tinggi deajatnya orang-orang yang belajar menuntut ilmu. Dimana dalam ayat tesebut juga di sebutkan untuk memberikan pengetahuan kepada yang tidak mengikuti belajar atau yang telah kembali dari peperangan, secara garis besar yat ini telah menjelaskan tentang pentingnya mengajar.
Dalam penjelasan ayat di atas yaitu berkewajiban mendalami ilmu agama dan kesepiannya untuk mengajarkannya. Mendalami ilmu-ilmu hukum yang menjadi kebiasaan dalam kehidupan. Firman Allah  Sawt dalamsurat Ali Imran ayat 104:

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٌ۬ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ‌ۚ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
Artinya : dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf[17] dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang – orang yang berntung. (Q.S. Ali ‘Imran: 104)[18]

Maksud dari ayat diatas adalah sebaiknya ada beberapa segolongan yang bertugas menegakkan dakwah, melaksananakan kebaikkan dan mencegah yang munkar.



D.    Al Qur’an Menjelaskan Tentang Kedudukan Belajar Mengajar Dalam Surat Al Mujadilah Ayat 11

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: hai orang –orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “berlapang-lapanglah dalm majelis”. Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapnagan bagimu. Dan apabila dikatakan:”berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggalkan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha Mengetahui apa yan kamu kerjakan. (Q.S. Al Mujadalah : 11)[19]

1.      Asbabul Nuzul Surat al Mujadalah ayat 11
Berkenaan dengan turunnya ayat tersebut dapat dilihat keterangan yang diberikan oleh Ibn Abu Khatim menurut riwayatnya yang diterima dari Muqatil bin Hibban, bahwa pada suatu ketika dihari Jum’at Rasulullah berada disuatu tempat yang sempit, saat mana ia tengah menerima tamu dari penduudk Badar ari kalangan Muhajirin dan Anshar, tiba-tiba sekelompok seorang yang didalamnya termasuk Tsabit bi Qais datang an ingin duudk di bagian depan tempat tersebut.merekaberdiri memuliakan Rasulullah, dan mengucapakan salam. Nabi menjawab salam meraka, dan kelompok tersebut menjawab sekompok ynag lain. Namun orang yang datang terdahulu tetap tidak memberikan peluang. Kejadian ini membuat Rasulullah bertindak inisiatif dan berkata kepada mereka dan sekitarny a berdirilah,berdirilah,berdirilah kalian. Rasulullah tampak menunjukkan kekecewaan di ahadapan mereka. Dalam keadaan demikianlah ayat ini diturunkan.
2.      Penjelasan Surat Al Mujadalah Tentang Kedudukan Belajar Dan Mengajar

Dalam kalimat ayat taffasahu maksudny aadlah tawassa’u yaitu saling meluaskan dan memeprsilahkan. Sedangkan kata yafsabillahillahu lakum maksudnya Allah akan melapangkan rahmat dan rizki bagi mereka.[20] Di dalam sebuah atsar disebutkan:
قيدوا العلم بالكتابة
“Ikatlah ilmu itu dengan tulisan.”[21]
Dalam penjelasan lain bahwa Allah akan mengangkat orang –orang mukmin yang melaksanankan segala perintahnya dan perintah Rasul-Nya dengan memberi keduudukan yang khusus, bak dari segi pahala maupun keridhaan –Nya.[22] Dengan mempelajari ilmu pengetahuan tidak hanya menulis dn membaca, kehidupan ini pun  telah siap mengajar seseorang untuk memehami pengetahuan, dalam pendidikan dan sosial misalnya, seseorang akan belajar memahami hidup ini dengan menyesuaikan dengan masyarakat dan lingkungan. Maka dia akan mendapat kan tempat dalam masyatakat. Begitu juga bila seseorang tidak mau belajar dan hanya berdiam diri maka kehidupabn tidak akan memberikan pengajaran pada nya.
Dalam sebuah perkumpulan majelis, bila kit aberlapang dada merelakan tempat kita kepada orang lain. Allah akan memberikan Rahmat dan Rizki, semestera dalam kehidpan maka kita akan mendpaat tempat dan bisa memberikan pengajaran dalam mengajar secara terbuka.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yan dapat kami tuliskan dalam bab penutup ini yaitu belajar dan mengajar dalam pendidikan sudah snagat jelas di tuangkan dalam Al Qur’an. Namun sangat di sayangkan kejelasn yang ada disni masih belum dapat dipahami dengan menyeluruh. Seorang yang akan mengajar di tuntut untuk dapat memberikan pemahaman sesuai dengan kapasitas orang persta didik, jadi dalam mengajar harus ada alat untuk mencapai pendidikan.

B.     Saran
Sedikit penulis memberikan Saran untuk kita semua, bahwasannya pendiidkan memang snagatlah penting apa lagi dengan tujuan untuk meningkatan keimanan dan moral seseorang. Jadi kita adalah seorang pendidik yang akan mengajar dan selalu belajar. Marilah kit atingkatkan kualitas mengajar yang telah di jelaskan dalam Al Qur’andan menambah pengatehuan dengan membaca dan mencari buku-buku atau sumber-sumber yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al–Maraghi (terjemah Juz XV. Semarang.Toha Putra. 1993.
Al Hakim (1/106) dari Umar bin Khaththab dan Anas bin Malik secara mauquf. Atsar ini shahih
Al Quran dan Terjemahannya.muqadimah.Jakarta.percetakan Raja Fadh.1971.
Dariyanto. Belajar dan mengajar. Bandung. CV. YRAMA WIDYA. 2010.
Jalaluddin. As Auyuthi.  Sebab turunya Ayat Al Qur’an. Jakarta. Gema Insani Press. 2008.
Nata. Abuddin. Tafsir ayat-ayat pendidikan.  Jakarta. Raja Grafindo Persada. 2010.
Tafsir.Ahmad Ilmu pendidikan dan Dalam Perspektif Islam. Bandung. Rosda. 2008.
Tafsir Ibnu Kasir, juz XXX. Bandung. Sinar Baru Algesindo. Cet ke-3 2007.
Tafsir ibnu  Kasir. Juz XXVIII. Bandung. Sinar Baru Algasindo. 2010.



[1] Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al–Maraghi (terjemah Juz XV.( Semarang.Toha Putra. 1993). hal: 77.
[2] Dariyanto. Belajar dan mengajar. (Bandung. CV. YRAMA WIDYA. 2010) hal: 2
[3] Dariyanto. Belajar dan mengajar. ... hal: 159.
[4] Dariyanto. Belajar dan mengajar. ... hal: 160
[5] Ahmad Tafsir. Ilmu pendidikan dan Dalam Perspektif Islam. (Bandung. Rosda. 2008) hal: 77
[6] Al Quran dan Terjemahannya.muqadimah.(Jakarta.percetakan Raja Fadh.1971)  Hal:1079
[7]Jalaluddin As Auyuthi.  Sebab turunya Ayat Al Qur’an. (Jakarta. Gema Insani Press. 2008) hal: 308-309
[8] Al Quran dan Terjemahannya. ...  Hal: 1078
[9] Tafsir Ibnu Kasir, juz XXX.(Bandung. Sinar Baru Algesindo. Cet ke-3 2007).hal: 432
[10] Jalaluddin As Auyuthi.  Sebab turunya Ayat Al Qur’an. ... hal: 308
[11] Jalaluddin As Auyuthi.  Hal: -310
[12] Ahmad Mustafa.  Tafsir Al maraghi. ... hal: 78
[13] DEPAG RI. Al Qur’an dan Terjemahannya. ... hal:
[14] Ahmad Mustafa.  Tafsir Al maraghi. ... hal: 87
[15] Abuddin Nata. Tafsir ayat-ayat pendidikan. ( Jakarta. Raja Grafindo Persada. 2010) hal: 159
[16] Tafsir ibnu  Kasir. Juz XXVIII.(Bandung. Sinar Baru Algasindo. 2010) hal: 103
[17] Ma’ruf segala perbuatan yang mendekatkan kit akepada Allah, sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya. ( penjelasan ayat 104. DEPAG RI. Al Qur’an dan Terjemahannya. ... hal:93)
[18] DEPAG RI. Al Qur’an dan Terjemahannya. ... hal:93
[19] DEPAG RI. Al Qur’an dan Terjemahannya. ... hal: 910-911
[20] Abuddin Nata, ... hal: 152
[21] Riwayat Al Hakim (1/106) dari Umar bin Khaththab dan Anas bin Malik secara mauquf. Atsar ini shahih]
[22] Abuddin Nata, ... hal: 154

Komentar

Postingan Populer